Advertisement

  • Kitabku, Pesantrenku dan Keluargaku

    Ku buka lagi sebuah kitab kuno, kitab kuning berbahasa arab tanpa harokat, hanya orang arab yang mampu membacanya. Ehemm…….aku menelan ludah dan tersenyum tersipu mengangkat sedikit ujung bibir dengan kepuasan, kebahagiaan, dan juga sedikit kembanggaan tersendiri karna selain bangsa arab, aku juga mampu membaca dan memahami isi kitab tersebut. Ya,tentunya dengan ilmu yang tidak lain dan tidak bukan adalah ilmu yang ku pelajari di pesantren, ilmu gramatikal tersebut tidak begitu sulit, cukuplah 2 tahun untuk menguasainya secara mendalam, hanya saja ada kebahagiaan lain yang menggugah hati untuk merintis kehidupan di pesantren selama bertahun-tahun.terlintas lagi kenangan ketika pertama kali ayah akan membawaku ke pesantren. Siang itu aku benar benar tak sanggup menahan gundah hati dan cairan bening yang sudah menumpuk di pelopak mata. Setetes air mata yang kulihat dan kurasakan mengalir perlahan di pipi kiri ibu hingga tetesan itu menyentuh bibir manisnya, spontan wajahku di banjiri air mata yang tak kalah derasnya, aku merengek sejadinya bak bayi yang baru lahir lantaran belum bisa menerima kenyataan hidup bahwa aku akan berpisah meninggalkan satu satunya orang yang amat sangat ku cintai di dunia ini. Ternyata dengan isakan tangisku itu air mata ibu semakin deras seakan hatinya tersayat perih atau bahkan tercabik karna harus melepasku anak semata wayangnya, karna sebelumnya aku tidak pernah mendapati ibu menangis habis sampai ujung penghabisan seperti ini.

    “Nak, belajar yang rajin ya! Jangan banyak buang-buang waktumu, masa depanmu di tentukan hari ini” Suara ibu terdengar tegar meski isak tangisnya tak dapat di sembunyikan.

    “Insya Allah bu, selalu doakan alfin” dengan penuh cinta dan hormat ku cium punggung tangan kanan ibu, tidak puas dengan itu ibu langsung memeluk erat tubuhku hingga pancaran kasih sayang menyatu dalam tubuh kami.

    “Seorang ibu tidak akan pernah berhenti mendo’akan anaknya” Saat itulah ibu dan aku mulai tegar, sudah sama sama saling mengerti arti kepergianku. Meski berat, namun pahitnya perpisahan ini harus kami jalani demi meraih ilmu, masadepan yang cerah, kebahagiaan dunia akhirat dan tentunya ridho Allah SWT.

    “Lima menit lagi pesawat akan berangkat. Alfian tanamkan niat menuntut ilmu dan mohonlah pada Allah agar Ia memudahkan segala urusanmu, ayah dan ibumu!” Suara ayah melepaskan pelukan hangat ibu dari tubuhku. Suasana siang itu sedikit haru, bahkan beberapa teman yang mengiringi kepergianku ada yang meneteskan air matanya.

    “Hati-hati di jalan fian!” kata Arul

    “Reach your dream come thru and don’t forget your friends, Okey!” Mereka menjabat tanganku satu persatu. Sahabat yang slalu mensuportku dalam hal-hal positif, begitu pula ketika mereka mendengar keputusanku untuk melanjutkan study di pondok pesantren, meski sedikit terkejut dan kecewa karna aku memundurkan diri untuk sekolah si salah satu SMA favorit di kota kami padahal kami bertiga sudah lulus tes dan resmi di terima di sekolah tersebut.

    Tenang sobat, koneksi jaringan persahabatan kita tidak akan terputus hingga akhirat kelak.

    Mereka masih belum habis pikir dengan jalan hidup yang di pilihkan orang tuaku ini, di jaman modern dengan teknologi yang serba canggih, masih adakah orang tua yang memilih pondok pesantren sebagai jenjang pendidikan yang di tempuh? Instlansi pendidikan yang memiliki seribu satu peraturan dan kedisiplinan; tidak boleh keluar masuk asrama sembarangan, di larang membawa majalah atau koran yang tidak layak di baca, alat elektronik, hp, dilarang ke rental dvd, play station, warnet dan sederet tetek bengek lain yang menjadi tantangan berat bagi santri abad 21. Bagaimana aku mampu menyerap informasi global jika sarana dan prasarana yang menunjang informasi tersebut dilarang? Sungguh lingkungan yang tergambarkan bak penjara suci lengkap dengan penghuni dalam jeruji emas.

    Entahlah, masih ada 5% keraguan dalam hatiku untuk hidup di pesantren.

    # # #

    Kitab di tanganku saat ini tidak berbeda jauh dengan wujudnya beberapa tahun silam ketika aku masih mempelajarinya di pesantren, Masih tersampul rapi meski banyak oretan di sana sini, penuh dengan beberapa makna dan keterangan dari sang kyai yang sayang untuk ku tinggalkan walaupun terkadang aku menyesal sekali jika tertidur di kelas pada jam pelajaran terakhir. Bagaimana tidak, kegiatan di pesantren begitu padat dan terorganisir sehingga membuatku sedikit lelah. Semua kegiatan harus berjalan sesuai dengan jadwalnya karna jika terlambat, aku harus merelakan telapak tanganku merasakan tebasan rotan sejumlah lama ketrlambatanku,dan rasanya; sakit, perih, pedas lebih-lebih memar merah sampai ulu hati, Huft…….. jika tidak pintar pintar membagi waktu, aku akan kualahan menjalani hidup di pesantren, atau bahkan sangat mempengaruhi kesuksesanku. Seluruh santri harus sudah larut dalam tidur pada pukul 23.00 malam karna dini hari jam 03.00 ketika para manusia dan makhluk lain tenggelam dalam tidur nyenyak mereka, santri harus sudah bangun bermuwajahah kepana tuhan semesta alam, ber-kholwah, berdua-dua_an dan bermanja-manja dengan dzat yang maha segala maha. Sungguh kenikmatan yang tak tertandingi, saat itulah mereka meneteskan air mata kepada sang penciptanya, memohonkan ampunan untuk orang tua mereka. Bangun malam adalah salah satu ciri khas seorang santri, tidak di katakana santri jika tidak melakukannya. karna pada dini hari itulah Allah mengampuni hambanya yang memohon ampun dan memberikan keinginan hambanya yang mengajukan permintaan. Hingga shalat subuh di dirikan dan usai membaca wirid dan do’a-do’a para santri mengikuti pengajian subuh yang di pimpin langsung oleh sang kyai selama satu jam. Setelah itu kami para santri berbenah diri mandi kemudian sarapan hingga jam setengah delapan pagi sudah siap dengan niat dan semangat menuju kelas mengkaji kitab sekaligus menerima transfer ilmu dari para ustad. Pelajaran berakhir dengan di kumandangkannya adzan shalat duhur dan semua santri berbondong-bondong menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah yang pahalanya berlipat-lipat ganda jauh dari pahala orang yang shalat sendiri, karna itulah jarang ada santri yang menyia-niyakan kesempatan emas tersebut. Ketika matahari berputar pada porosnya dan manusia di buat gerah oleh panasnya, para santri menikmatinya dengan melahap makan siang. Terpat pukul 14.00 waktu istirahat, namun bagi mereka yang menyandang status siswa SMA atau mahasiswa harus rela mem_pending istirahat dan meluncur lagi ke ruang kelas dengan status yang berbeda –pagi seorang santri, siang dan sore seorang mahasiswa.Yupz -santri yang mahasiswa dan mahasiswa yang santri- itulah salah satu motto kebanggaan kami yang masih betah di sini. Usai shalat magrib para santri khusyu lagi di dalam masjid dengan niat I’itikaf sekaligus pengajian oleh romo kyai hingga masuk waktu is’ya setelah itu lagi-lagi kami di sibukkan dengan program-program yang melelahkan, malam senin,rabu dan sabtu adalah malam-malam tamrinul muhadoroh sedangkan malam yang lain di isi dengan musyawaroh. Barulah pukul sepuluh malam kami dapat terlepas dari kegiatan itu semua dan menikmati lagi istirahat yang kami tunggu-tunggu. Lelah memang, sedikit membosankan, tapi tidakkah setiap langkah yang ku hentakkan memiliki pahala yang aku yakin akan menjadi suatu infestasi dan saksi di akhirat kelak? Mulutku tak perlu menjawab pertanyaan malaikat; untuk apa kau gunakan kakimu semasa remajamu? Kau gunakan untuk ma’siat kah? Atau untuk ibadah? Karna spontan kakiku akan menjawab: jangan hukum dia ya Allah, dia mengfungsikanku untuk ibadah sebagaimana yang engkau perintahkan.

    # # #

    Lembaran demi lembaran kitab yang ku baca ini adalah buah dari jerih payah masa mudaku di pesantren. Meski tidak sampai membanting atau memecahkan tulang aku tetap berusaha semampuku dan aku puas dengan yang aku perolah karna pada dasarnya itulah kadar perjuanganku. Menikmati masa remaja di pesantren memang butuh ketangkasan dan kesabaran yang lebih, ketika terjadi ledakan hormon dalam masa puberitas, setan beserta anak buahnya menyerang diriku dari berbagai macam cara, dan perempuan adalah salah satu godaan terbesar. Andai kata tidak ada sedikit iman di hati pasti aku sudah jatuh dan tenggelam dalam limbah hitam seperti sebagian besar teman sebayaku.

    “Hari gini nggak punya pacar? Kamu nggak laku fian? Apa perlu aku yang mencarikan untukmu?” Tanya roni ketika aku pulang ke rumah saat liburan romadhon.

    “kamu kan tau aku di pesantren”

    “Kan ada santri putri, setauku santri putri itu cantik-cantik, dari wajah mereka terpancar cahaya dan memiliki iner bauty yang tidak di miliki oleh cewek biasa, apalagi kalo dapet yang hapal al-quran,solehah, wah…….sempurna banget” kata katanya menggoyahkan hatiku, ada benarnya juga, kenapa aku tidak mencobanya? Hanya sekedar mencoba.Spontanitas bayangan seorang wanita muncul di pikiranku, sifatnya persis seperti apa yang di katatakan roni; cantik, wajahnya memancarkan cahaya, memiliki iner beauty dan yang lebih istimewa adalah dia hapal al-quran secara dobet. Dia memang terkenal di kalangan santri putra ibaratnya ia adalah miss pesantren, selalu menjadi figure dan buah bibir dagi orang banyak. Ada beberapa teman yang pernah nekat diam-diam mengirim surat kepadanya. Tapi entahlah, setauku tak ada yang di respon olehnya. Pernah sekali aku dan dia menjadi utusan untuk lomba cerdas cermat al-quran se jawa tengah, karna umurnya lebih muda dariku dan dia terlalu istimewa bagiku, jadi selama kebersamaan kami aku lebih menutup diri mencoba menjaga haibah meskipun terkadang dia berusaha membuka komunikasi denganku.

    “Iya, aku pernah kagum dengan seorang santriwati. Jujur, sebagai manusia biasa aku kagum dan tertarik padanya, dan jika mungkin aku nekat, aku pasti mendapatkan cintanya dengan mudah karna terahir kali aku bertemu dia memberiku secarik kertas yang bertuliskan ; wudduka ya aynul munharifah kemudian tersenym malu padaku”

    “Terus, bagaimana responmu?”

    “Entahlah, mungkin aku terlalu jual mahal, padahal betapa senangnya hatiku ketika membaca kalimat dari kertas tersebut” sengaja ku hentikan kata-kataku.

    “Terus?” ternyata roni tidak sabar mendengar kelanjutan cerita cintaku.

    “Meskipun dengan hati yang hancur, dengan sombongnya aku merobek potongan kertas itu sambil menghadiahkan senyum yang ku paksakan kemudian ku katakan ; I love you to, but don’t give me this love now! Okey!”

    “Kenapa kamu bisa melakukan itu?” aku hanya menjawabnya dengan senyuman sambil mengangkat sedikit bahu. Entahlah, sebelum aku merobek kertas itu aku teringat perkataan Ibnu Ajibah ;Faman taroka say’an lillah awwadohu Allahu mislahu aw ahsana minhu.

    Itulah masa remajaku, ketika kebanyakan remaja menjadikan pacar-pacar mereka sebagai kesenangan hidup, aku tidak mau kalah dengan menjadikan kitab, tasbih, masjid sebagai sarana kesenangan hidupku.

    # # #
    Kitab ini ku beli dengan uang tabunganku, hidup tidak selamanya indah dan memiliki beragam warna, rasa dan bentuk. Terkadang bentuknya halus, berwarna merah dan rasanya manis, namun transformasi kehidupan dapat mengubahnya menjadi kasar, berwarna hitam, bau dan rasanya sangatlah busuk.Uang yang ayah transfer ke rekeningku kadang kurang dan tidak dapat memenuhi semua kebutuhanku, entahlah, orang tua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, jangankan harta, nyawanya pun di pertaruhkan. Jadi jika ayah mengirimi aku uang pas-pasan, itulah yang ia mampu tanpa ada protes, kepada ayah, kepada Allah, melainkan bersyukur, kepada ayah, kepada Allah.
    “Untuk apa itu fian?” Ahmad yang telah lama memperhatikanku akhirnya melontarkan pertanyaan juga
    “tabungan” jawabku singkat
    “Tabungan? ente kan bisa beli sirkah, Rp 3000,- doang!”
    “Kreatif mad, ana kan baru baca buku creative intelligence, di pikir-pikir bambu di belakang kamar terbuang gitu aja, lebih baik di manfaatkan, gampang kok bikinnya, tinggal bolongin sedikit ruas tabungnya.oh ya, sisa cat biru untuk lemari masih ada kan?”tanyaku sambil meneliti lagi tabung bambu yang baru saja ku sulap menjadi sebuah tabungan unik.
    “Masih, kalo gitu buatkan ana juga ya!”
    “Enak aja, buat sendiri! Nih gergajinya”
    “Bahil banget!” ahmad menerima gergaji yang ku serahkan padanya.”Tapi kenapa fulusnya nggak ente simpan di ATM aja? Kan lebih aman dan nggak ribet?!”
    “Yang ana takutin itu bunganya mad, kayanya nggak barokah banget! Lagian ana nabungnya Cuma fulus ricikan, ribuan, untung-untung kalo ngisi lima ribu perbulan”
    “Memangnya ente setiap bulan di kirim berapa fian?”Tanya ahmad mengeluarkan sifat aslinya,simpati.
    “Nggak nentu mad, malahan bulan ini Cuma seratus lima puluh ribu”
    “Seratus lima puluh ribu?” Tanya ahmad terkejut
    “Itupun 50 persennya sudah ana bayarkan utang dan uang kas kamar, kelas,organisasi”
    “Kuat ente ya?”
    “Kuat-kuatin lah mad, itu pun Alhamdulillah ana bisa di kirimin fulus sama ayah, ana selalu membandingkan dengan fuad, halimi yang mereka Cuma di kirimin fulus seratus ribu untuk dua bulan, bahkan ada enam orang anak yatim di sini yang tidak pernah di kirimin fulus”
    “pantes ana sering ngeliat ente sama mereka puasa senin kamis”
    “Kalo puasa mah memang ana yang ngajak mereka, selain untuk mujahadah juga untuk menghemat sambil bersedekah kepada anak yatim”
    “Wah, ente itu ya, serakah banget sama pahala”
    “Gimana nggak mau serakah? Ana kan nggak tau mana yang di terima sama Allah”
    Aku masih termasuk santri yang beruntung, masih punya orang tua yang setiap bulannya masih bisa mengirim uang meski tak banyak. Beberapa sahabatku di sini ada yang menyandang status anak yatim, yang mustahil mengharapkan fulus dari orang tua mereka, ada juga beberapa muallaf yang di buang oleh keluarga mereka, tanpa ada yang memperhatikan dan memperjuangkan ke islamannya, beruntung iman mereka tebal melebihi kami sendiri orang islam sehingga tetap berusaha mempertahankan hidayah yang tak ternilai harganya itu meski dengan kata kasar mereka hidup dalam kekangan dan penderitaan dari pihak keluarga.
    “Ngelamunin apa ente? Ikan laut?” Tanya ahmad menghampiriku, tau aku alergi ikan laut, tak bisa memakannya. Jadwal makan sabtu siang adalah ikan laut dan sungguh menyium baunya saja aku tak kuat, apalagi memakannya.
    “Harga kitab Bai’jury di sirkah berapa ya?” aku menyembunyikan ekspresi laparku dengan mengalihkan pembicaraan.
    “Kemarin rahmad Jakarta beli, kalo nggak salah…….?” Ahmad mencoba mengingat
    “Yang cetakan luar negri seratus dua puluh ribu, ente mau beli?”
    “Nggak tau mad, fulus ana cukup atau enggak” aku menjawabnya lemas, maklum lah, siang, panas, perut keroncongan dan bunyinya ; krutch……..krutch…….krutch…….(@^@&
    “Ana mau bongkar tabungan, kira-kira cukup nggak ya?”
    “Tabungan? Tabungan bambu yang kita buat dua tahun yang lalu itu? Masih ada? Wah, hebat ente, punya ana aja hanya berumur dua bulan”
    Aku mengangguk sedikit sambil tersenym mengingat cerita ahmad dua bulan setelah kami mulai menabung, dia mengaku tak punya uang sedangkan perutnya terus berteriak memohon pertolongan keepada sang empunya perut, jadilah dia membongkar tabungan tersebut kemudian segera membelikan obat lapar dan memakannya bersamaku.^_^ ahmad)
    “Sudah bongkar aja, ana penasaran isinya penuh atau tidak, masalah kurang sepuluh-dua puluh ribu biar ana yang nambahin!” Ahmad menyemangati dengan penuh penasaran
    “Beneran?”tanyaku masih belum percaya
    “Beneran lah, masa sof’to ?” Ekspresi wajahnya serius, tanpa pikir panjang aku mengambil tabungan tersebut, dengan ketegangan dan rasa penasaran kami membongkarnya, betapa kaget dan senangnya kami setelah menghitung lembaran dan ricikan yang ternyata jumlah keseluruhannya adalah Rp. 252.500,- .
    Alhamdulillah…………………..Akhirnya aku bisa membeli kitab Baijury. Dan……….membeli obat lapar, (@^@&_____^_^?


    # # #


    Kitab Baijury ini adalah kitab kajian pengajian rutin dua minggu sekali di masjid jami Darussalam, pengajian khusus ibu-ibu dan para remaja putri. Setiap pertemuan aku di hadapi dengan pertanyaan-pertanyaan aktual masalah kewanitaan, sebagian besar pertanyaan dapat ku jawab dengan mudah, namun jika ada pertanyaan yang sukar untuk di jawab aku memohon waktu untuk mencari jawabannya lewat refrensi dari maktabah syamilah di leptopku.
    “Wudlu’ di wajibkan bersamaan dengan waktu kewajiban sholat yaitu pada malam isro’, dan hikmah pekerjaan wudlu’ hanya terbatas pada 4 anggota yaitu wajah, tangan, kepala dan kaki, karna 4 anggota tersebut yang selalu melaksanakan dosa sehingga dengan wudlu’ tersebut akan melunturkan dosa-dosa yang di lakukan oleh 4 anggota itu” Sebelum masuk BAB Wudlu’ di dalam kitab Bai’jury aku menjelaskan sedikit hal-hal yang berkenaan tentang wudlu’
    “Dan dalil wajibnya wudlu’ adalah firman Allah SWT yang berbunyi : Ya ayyuhalladzina amanu idza qumtum ila ssolah fagsilu wujuhakum wa aydiyakum ilal marofiq wamsahu biru’usikum wa arjulakum ilal ka’bayn,Surat………..?” Wah gawat, aku lupa ayat barusan terdapat di surat apa dan ayat berapa? Ya Allah, ampuni hamba!
    “Surah Al-Maidah ayat enam!” dengan suara lantang wanita cantik berbusana putih yang selalu duduk di hadapanku ketika pengajianku itu menjawab kemudian tersenyum manis sampai merasuk dalam lubuk hati, ibu-ibu berpostur tubuh gemuk yang duduk disampingnya mengelus eluskan tangannya ke punggung wanita tersebut.
    “Na’am, surah Al-Maidah ayat enam” Aku mengulangi sekali lagi yang di katakan wanita tadi.
    Setelah satu jam pengajian di akhiri dengan season Tanya jawab kemudian do’a penutup yang ku pimpin sendiri. Setelah itu mereka para kaum hawa saling bersungkeman dan berbincang sedikit di luar masjid. Ku luhat para ibu-ibu mengerubungi wanita dan ibu gemuk yang duduk di hadapanku tadi, mereka berdua bak artis terkenal atau bahkan lebih mulia dari itu. Bagai mana tidak, sang wanita tadi adalah salah satu putri seorang kiayi besar di jawa timur, dia juga hapal al-quran secara dobed, sedangkan ibu gemuk tadi adalah mertua dari wanita cantik itu.
    “Ustad, nggak mampir ke rumah kah?” Tanya seorang ibu ketika aku melintasi gerombolan ibu-ibu itu.
    “Afwan, lain kali aja” jawabku sambil tersenym manis. ya,semanis mungkin karna aku sedang berdiri dan menunggu.
    “Ibu-Ibu, kami pamit duluan ya!” kata ibu berpostur gemuk tadi sambil menarik lengan menantunya menghampiriku yang sedang berdiri dan memeluk sebuah kitab kesayanganku, kitab Bai’jury.
    “Loh, ustadzah sama bu nur ko pulang duluan? Oalah, sudah di tunggu Ustad toh, yo nggeh monggo!”


    # # #

1 komentar:

  1. Tlng bagi saudara2ku yg punya nmrnya yai fuad smskan ke 085730759111. Saya heriyanto gresik jatim alumnus santri kifuad dimajlis dzikir. Atas perhatiannya saudara2 km sampaikan terima kasih

Leave a Reply

Arsip Blog

Pengikut

Featured Video

Photos