Advertisement

  • PERTEMPURAN FUNDAMENTALISME ISLAM, REPRESENTASI REVOLUSI TIMUR TENGAH? Dahulu orang berkata, “islam adalah agama terbaik dengan penganut terburuk.” Sesudah Salman Rusydie, banyak yang berkata, “ Islam adalah agama terburuk dengan para pengannut terburuk pula.” Tentu saja kita tidak akan menemukan bukti yang lebih baik tentang kelumpuhan intlektual para pengikut Mahammad sekarang ini selain kegagalan mereka dalam memberikan respons yang memadai terhadap tantangan-tantangan modernitas sekuler. Umat islam modern, sebagai sekelompok masyarakat, secara memalukan tidak merenungkan tantangan-tantangan modernitas sekuler tersebut, seakan-akan mereka berpikir bahwa Allah telah memikirkan segala-galanya untuk hamba-hambaNya. Meskipun islam tidak kekurangan para apologis (pembela agama) atau teoritikus agama, secara bersama-sama mereka telah gagal memberikan respons yang bernash (berisi) dan mendasar terhadap modernitas. Karena tidak adanya pengaruh-pengaruh liberalisme dan skeptisisme, yang dapat ditelusuri dari tiadanya tradisi filsafat, maka sedikit muslim yang mengakui ancaman-ancaman sekularisme dan pluralisme ideologi yang dibawanya. Banyak penulis Muslim lebih suka berpura-pura menganggap modernitas sebagai tantangan untuk keyakinan orang Kristen saja, yakni hanyalah sebuah ancaman lokal bagi sebuah agama yang lemah yang telah takluk pada kebudayaan materialistis yang agresif.
    Pernyataan diatas adalah sebuah gagasan yang dituangkan Shabbir Akhtar dalam bukunya “Islam and Western Modernity” pada tahun 1990 di Bradford. Dalam bukunya tersebut dia berlatar belakang sebagai seorang serjana imparsial (tidak berpihak) yang tidak mengkritik islam dengan cara yang tidak simpatik sebagaiman yang dilakukan oleh para pemikir Kristen dan Marxis; mereka berpendapat bahwa pada dasarnya Islam adalah agama palsu dengan potensi politik yang berbahaya, tidak pula membela Islam secara mutlak sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan apologis muslim.
    Namun pada kenyataannya, tidak ada sesuatu pun yang dapat melebihi kebenaran. Dalam rangka mendapatkan kebenaran warisan Muhammad SAW demi kepentingan zaman modern ini, kaum Muslim harus mengakui dan menjawab tantangan-tantangan sekularitas dan pluralisme ideologi. Permulaan abad ke -15 Hijriah menjadi tanda berakhirnya zaman kepolosan (age of innocent) mereka. Lalu, dapatkah umat Muslim melalui kritikus-kritikus modernnya memperlihatkan bahwa Islam memenuhi pengabdiannya sebagai sebuah agama untuk semua zaman?
    Sebuah pertanyaan besar yang mesti dijawab umat Muslim jika tidak ingin “Kelumpuhan Intelektual” disandarkan kepada para pengikut Muhammad SAW sepanjang masa. Meskipun untuk menjawab itu semua, tidak jarang terjadi konflik di antara umat Muslim yang benar-benar menginginkan perubahan real tercipta di bumi Islam. Umat Muslim harus berusaha membuktikan keotentikan dan loyalitas agama Islam sehingga diterima oleh kalangan kawan maupun lawan. Penganut kepercayaan ortodoks baik di luar atau di dalam sekte Islam mesti menaruh simpati besar terhadap keberhasilan Islam dengan segala kebijakannya yang dapat diterima oleh semua kalangan. Adapun deskriminasi antara golongan dalam sekte-sekte Islam hanya sekedar deskriminasi saja tanpa menyusutkan semangat dalam mempertahankan islam di hadapan lawan. Atau inilah yang disebut Perbedaan dan Kemajmukan Dalam Bingkai Persatuan.
    Ternyata benar, semangat dalam mempertahankan Islam inilah yang membuat perpecahan intern umat Islam tidak bisa terhindarkan. Umat Islam mesti mengakui pentingnya metodologi dalam menyusun aksi. Mulai dari yang kecil sampai latihan menghadapi perang. Tak jarang jika kepentingan sekte yang dipertahankan, maka akan memancing sekte berikutnya untuk bertindak. Yang demikian adalah bukan hal yang asing lagi terjadi. Sudah sepantasnya investigasi dilakukan agar korban tidak terus berjatuhan.
    KONFLIK DI TIMUR TENGAH
    Selama dekade berlakunya sanksi ekonomi, pusat-pusat kekuatan menjadi lemah. Fundamentalisme dan salafisme yang diasosiasikan dengan perlawanan, tumbuh dan mengakar di Irak. Karya pemikir Irak dalam pengasingan, Muhammad Ahmad Arrasyid, tentang jihad dan negara Islam diselundupkan dari Mesir. Memperoleh tempat dan menjadi gurita dalam menyebarkan kecenderungan fundamentalis dan salafis, di seluruh wilayah dan mulai merasuk ke seluruh negeri.
    Persaudaraan Muslim, dengan kehadiran yang kuat di Yordania dan Syiria serta berafiliasi dengan pemerintahan Wahhabi di Arab Saudi. Memproklamirkan keberadaannya di wilayah Sunni, di bagian barat Irak yang berbatasan dengan Syiria dan Yordania, dan sekarang memperkuat Partai Islam Irak.
    Para penggerak ekstrimis memiliki suatu keuntungan untuk bergerak masuk ke Timur Tengah. Mereka mengalami kemunduran dan menjadi lebih moderat pada tubuh persaudaraan Muslim. Kegiatan mereka mendahului perang Irak, tidak hanya memperkenalkan pemikiran fundamentalis. Namun juga menciptkan jejaring organisasi yang akan memfasilitasi perlawanan mereka setelah perang .
    Pada tahun 1999, penguasa memutuskan untuk menganut sistem politik terbuka. Dengan keinginan mengkonsolidasikan kekuasaannya ketika berhadapan dengan kerusuhan, sang penguasa menyelenggarakan pemilihan umum untuk memberikan suara bagi penduduk negaranya dalam pemerintahan. Apa yang ada dalam benaknya bukanlah demokrasi, namun sebuah parlemen dari orang-orang terkemuka yang akan mengizinkannya untuk melakuakan kontrol atas masyarakat dengan mengkooptasi pemimpin mereka. Sebagian warga negara memboikot pemilihan umum, seperti Partai Keagamaan dan Front Revolusi Islam. Meraka menuntut keterbukaan yang sesungguhnya pada sistem politik. Tidak senang dengan terbatasnya akses terhadap penguasa, dan makin menonjolnya kehadiran ajaran Islam yang bertolak belakang dengan yang dianut rakyat. Semakin radikal pula elemen-elemen di tubuh Partai Keagamaan dan Front Revolusi Islam memulai agitasinya. Pemboikotan menjdikan pihak minoritas menguasai dua puluh tujuh dari lima puluh kursi di parlemen, hal ini benar-benar makin memperburuk situasi
    Potret kegentingan juga memanas di Bahrain. Ketika perang teluk kedua dimulai, Bahrain resah. Kaum muda, para penganggur yang kecewa, tampak seperti pemuda yang berada di kota Sadr. Apa yang kurang di Bahrain adalah, tidak adanya pemimpin seperti Muqtada Al-Sadr. Ketika sebuah surat kabar lokal memuat kartun yang tidak menyenangkan tentang pemimpin mereka, massa turun ke jalanan di Ibukota, Manama, sambil meneriakkan” Labbaik” (kami menjawab panggilanmua). Kaum muda Bahrain tidak suka mengikuti kepemimpinan tradisioanal yang lebih tua, dan kurang berkenan dalam memperhatikan panggilannya akan ketenangan dan kesabaran. Semangat revolusioner mulai memberikan tempat bagi tumbuhnya harapan untuk demokrasi.
    KONSEKUENSI FUNDAMENTALISME ISLAM
    “tidakkah engkau melihat bagaimana Tuhanmu memperbuat dengan tentara bergajah?
    Tidakkah dia menjadikan tipu daya mereka sia-sia
    Tidakkah dia mengirimkan kepada mereka burung berbondong-bondong
    Menghujankan batu-batu yang terbungkus api,
    Membuat mereka seperti daun yang dimakan ulat”
    (Q.S. Al Fil )
    Tidak ada satupun yang mengatakan bahwa, fundamentalisme sama sekali tidak memperoleh keuntungan dari revolusi. Salah satunya adalah yang mengajarkan tentang bagaimana berorgnisasi dan mengelola massa dalam sebuah gerakan sosial. Gerakan revolusi ini tampak di Negara-negara mayoritas muslim seperti Indonesia, Turki, dan Lebanon, jauh melihat Islam dengan kepentingan yang dapat diperbaharui. Bagaimanapun, Islam telah berhasil, sementara ideologi tidak. Islam sendiri sebagai sebuah idelogi telah membuktikan dirinya dapat bertahan samapi sekarang ini. Akan tetapi penghormatan atas apa yang terjadi, tidak sama dengan apa yang diterima oleh para pemimpin. Aktivis islam dengan cepat menghakimi bahwa, para pejuang revolusi sangat arogan, menyendiri, dan mabuk atas keberhasilannya sendiri.
    Fundamentalisme islam di dunia Arab jauh dari kegiatan politik revolusioner. Ini berakar pada dorongan keagamaan konservatif yang mencampurkan kepentingan perdagangan dengan nilai-nilai agama. Tujuannya adalah seperti dikatakan oleh seorang ahli islam kontemporer asal Perancis, Gilles Kepel, bahwa lebih sedikit merubah sistem yang ada daripada memberikan kesegaran baru.
    Beberapa fundamentalis terbuka untuk perubahan, tetapi sebagian besar tidak. Juga tidak bagi para pendukung maupun kelompok yang sangat mengharapkan adanya revolusi sosial, yang dapat menyalurkan sebagian kekayaan kepada fakir miskin. Lebih lanjut, para fundamentalis bisa belajar dari keberhasilan para penguasa yang juga mengambil keuntungan dari kesalahan-kesalahan yang diperbolehkan muncul di antara nilai-nilai Islam pihak oposisi dan ketegasan rezimnya terhadap sekularisme. Di negara-negara seperti Arab Saudi, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia, pemerintahannya telah mulai menikmati legitimasi islam yang patut diperhitungkan. Selain itu, seperti di Indonesia dan Mesir, pejabat-pejabat dengan cepat bergerak mendorong rezim untuk memperoleh dukungan keagamaan. Ketika dimana-mana membicarakan fundamentalisme islam, jurang pemisah antara fundamentalisme sebagai revivalisme dan fundamentalisme sebagai revolusi sungguh sangat dalam. Bahkan beberapa waktu dekat, sektarian yang terbagi dalam kalangan muslim tradisional lebih memusatkan perhatiannya pada keberagaman yang konservatif. Menurut sebagian pihak mungkin ini akan berimplikasi pada kehancuran persaudaraan Muslim. Kendatipun demikian, mampukah konsekuensi ini memberikan representasi revolusi di Timur Tengah?
    Mari kita mengkaji sejarah………………!
    Pada tahun 1974, perjuangan terhadap tujuan islam telah menjadikan Arab Saudi semakin besar mencapai keseluruhan muslim dunia. Mulai dari pembuat opini sampai para aktivis pemimpin politik, pemimpin agama, dan lembaga-lembaga pendidikan. Terkadang sampai pada tingkat masjid-masjid kecil di desa maupun di kota. Inventasi pada kepentingan Islam memberi alat kepada kerajaan baik untuk menahan perlawanan, maupun untuk menutupi luas dunia Muslim dengan pengaruhnya .
    Pada tahun 1980, setelah Irak-Iran berperang, Arab Saudi menunjukkan keberpihakannya dengan berada di belakang Saddam, membiayai perang hingga puluhan milyar dollar. Ini memang sebuah perang Arab-Iran, namun juga perang antara Sunni-Syiah. Jika di Irak itu merupakan dukungan Saudi secara militer yang bisa saja menghentikan Khomeine, di tempat lain Arab Saudi juga memiliki sumber daya untuk membatasi penyebaran pesan-pesan Khomeine. Karena antara Arab Saudi dengan Khomeine terdapat latar belakang pemikiran yang berbeda. Wallahu A’lam

    more
  • Aliran Darah Rosululloh ‘……..Karena di dalam tubuh mereka mengalir darah Nabi SAW…..’
    Matahari tersenyum menyaksikan putri anak adam yang sedang merintih menerima efek dari biasan panasnya.Setelah mengusap sedikit keringat yang tercucur dari kening dengan tisu, gadis itu merapikan lagi jilbab hitam yang membalut wajah putih berhias bola mata bulat nan indah lengkap dengan hidung mancungnya. Meski gerah ia mencoba tegar dan menyesuaikan diri untuk kembali terlihat segar.
    “Ya Allah, jika tidak karena tugas ana nggak akan mau keluar rumah dengan cucua sepanas ini” gadis berdarah arab itu ngomel sendiri, paling tidak sedikit mengekspresikan kekesalannya saat ini. Seharusnya ia membeli buku referensi untuk tugas kuliahnya itu dua atau tiga hari yang lalu. Tapi memang waktu kurang mendukung dan aktifitas sehari-harinya juga tidak mengijinkan, jadilah siang ini ia harus menanggung konsekuesensinya untuk mencari referensi sekaligus menyusun tugas makalah karena malam ini ia harus selesai dan mempresentasekannya di hadapan dosen yang tergolong KILLER besok pagi. Untungnya dia telah membuat kerangka makalah tersebut di dalam katalok otaknya jadi hanya perlu mengedit dan menarikan jari-jariny di atas di atas notebook kesayangannya.
    “Jam segini pasti jarang ada taksi lewat,mana sudah dhuhur lagi, nanggung banget!” Gadis berjilbab itu memutar balik tubuhnya, tak lagi menatap jalan raya, di hadapannya sebuah ruko yang tadi ia keluar dari salah satu pintunya. ‘Kedai Sastra’ ruko bertingkat dengan cat keseluruhan hitam pekat. Lantai dasar adalah sebuah kedai dengan suasana yang di sulap menjadi sangat santai dan nyaman. Masih dengan interior serba hitam yang di dindingnya terpajang beberapa foto jumbo tokoh-tokoh terkenal lokal dan internasional seperti chairil anwar, Albert einstin dan Hasan Al-Banna. Tertata rapi sebuah toko buku di tingkat atas yang terlihat megah dan tidak kalah lengkapnya dengan Gramedia.Kelebihannya, di situ juga tersedia buku-buku bekas berkuwalitas dengan harga super miring.
    “Kelamaan nunggu taksi, lebih baik shalat duhur terus garap tugas di café sambil menikmati carabian nut! Yups….! Selalu ada ide cemerlang di otak yang brilian! Bismillah!” Sarah melangkah membawa semangat dan senyumnya, ia sudah mulai tertarik pada tempat ini, selain harganya terjangkau suasananya juga nyaman. Sarah memasuki pintu utama lantai dasar, seorang waiter menyambut dengan ceria.
    “Selamat siang mbak,Silakan!”
    “Terima kasih mbak, maaf mushollanya di mana ya?” tanpa membuang waktu sarah menanyakan perihal musolla untuk melaksanakan shalat duhur agar setelahnya ia bisa mengerjakan tugas dengan tenang.
    “Oh Musholla, ada di pojok sebelah kiri mbak! Silakan!”
    “Terima kasih !”
    # # #
    “Sawa’ yik, ana sudah cari ke mana-mana tapi nggak ketemu. Ana dengar dia sudah pindah ke Jl.Martadinata no 18 tapi ketika ana ke sana rumah itu kosong, katanya sudah di kosongkan selama dua bulan lebih”Arif menyeruput lagi secngkir kopi jahe zanzabil.
    “Kemana dia ya? Padahal ana besok sudah harus kembali ke Jakarta!” Seorang pemuda berhidung mancung di hadapan Arif terlihat bingung mengerutkan dahinya mencari salah satu teman lama memang sulit.
    “Afwan ya”
    “Ya, kheir! Ana yang minta maaf sudah merepotkan antum!”
    “Ah, nggak bib,antum sama sekali tidak merepotkan! Justru ana senang sudah bisa membantu”
    “Ya sudah, Syukron ya! di atas ada toko bukunya ya? ke atas yuk, ada buku baru dan sepertnya harus ana beli”
    Arif mengangguk, keduanya beranjak setelah sama-sama menyeruput cangkir mereka masing-masing.Kedua sahabat itu sudah lama sekali tidak bertemu tapi dulu di pesantren mereka akrab sekali, bahkan makanpun mereka lahab berama dalam satu nampan. Sungguh kebersamaan yang mungkin hanya dapat di temui di pesantren. Mereka berjalan menuju daun pintu setelah membayar makanan di kasir.
    “Arif? Assalamualikum…” Seorang gadis berpapasan dengan mereka dan menyapa Arif.
    “Waalaikumsalam, sarah? Lagi ngapain ?” Arif menjawab salamnya dan masih belum percaya dengan seseorang yang berdiri di hadapannya.
    “Lagi nyari buku buat tugas besok, bagaimana tugasmu? Sudah selesai?” sarah menundukkan pandangan setelah menatap seseorang di samping Arif.
    “Alhamdulillah sudah kelar, tugasmu bagaimana?” Tanya Arif
    Sambil tersenyum sarah menjawab “Baru mau ana mulai,Ya sudah ana masuk dulu ya! Assalamualaikum….”
    “Waalaikumsalam” Jawab Arif dan diya temannya hampir bersamaan.
    # # #
    Tempat yang paling di senangi oleh orang yang cinta ilmu adalah perpustakaan dan toko buku. Diya salah satunya, Ia menghabiskan satu jam lebih dalam toko buku tentunya tidak hanya sekedar melihat atau membaca buku-buku di dalamnya tetapi juga memborong berbagai jenis buku seperti buku agama dan motifasi. Arif hanya bisa menggelengkan kepala melihat teman lamanya yang sedang asyik dengan hobi yang sejak dulu di gelutinya, mengoleksi buku. Di tepi jalan depan ruko Arif dan diya menunggu taksi, ternyata jarak dua meter di samping kiri Arif terlihat sarah sedang asyik dengan menggenggam ponsel di telinganya tanpa menyadari lalu lalang kendaran yang sedikit sepi tapi membahaykan karena mobil motor itu melaju begitu kencang. Entahlah apa yang di kerjakan sarah di sana mungkin ia sedang menghubungi jemputannya.
    Sebuah truck melaju kencang jalannya aneh, sedikit menepi tapi masih dalam kecepatan yang tidak wajar. Arif menyadari truck itu seakan ingin memangsa sarah. Truck itu semakin dekat, Arif bergegas lari menerjang sarah dan….
    “Tidak………!!!”
    # # #
    Arif mendapati dirinya dalam keadaan pusing yang sangat berat membebaninya, baru dua jam ia siuman setelah tidak sadarkan diri sehari semalam. Rumah sakit adalah tempat yang paling ia benci, tetapi kali ini ia berbaring di salah satu ruangan yang di atas pintunya tertuliskan UGD.
    “Tidak! Jangan biarkan sarah mendonorkan darahnya untukku!” Arif makin panik ketika mendengar nama orang yang mendonorkan darah untuknya dari Diya.
    “Arif, dia berkorban untukmu. Stok darah AB di beberapa rumah sakit di kota ini sudah habis.ini darurat! hanya dia yang bergolongan darah sama denganmu. Kamu mengalami pendarahan yang cukup parah” Diya memahamkan Arif.
    “Tidak, sekali lagi tidak!” Arif tetap bersikeras, dia mencoba mengangkat suara padahal kondisinya keritis.
    “Kamu jangan terlalu fanatik dengan kami!”
    “Tidak bib, kalian memang berhak untuk itu! Ana tidak pernh bertemu Rosullulloh, tetapi ana bersyukur sekali dapat bertemu dan mengenal para cucunya!”
    “tidak Arif, terimalah donoran darahnya demi kelangsungan hidupmu”
    “Tidak bib, tubuh in terlalu hina untuk itu! Tidak mungkin setes darah Rosululloh mengalir di tubuhku. Apalagi sarah adalah seorang syarifah dan aku bukan mahromnya. Tidak mungkin aku menyakiti dan berhutang budi dengannya” Diya terdiam mendengar penjelasan Arif yang terbaring lemah.
    “Tidak Arif, biarkan tetesan darah mulia Rosululloh mengalir di tubuhmu, biarkan darah yang telah ku donorkan itu menjadi saksi dan penawar tubuhmu dari neraka, kamu telah memuliakan keturunannya! Kamilah yang berhak berbuat baik terhadap sesama” Sarah berdiri di depan pintu, tidak ada yang menduga ternyata ia telah mendengar semuanya.
    # # #

    more
  • EFEK POSITIF AL QUR’AN dalam PERSPEKTIF ILMUWAN “Dan apabila dibacakan al-Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. al A’raf : 204)

    Al-Qur’an memiliki banyak aspek keistimewaan dan kemukjizatan, Salah satunya adalah aspek psikologis. al-Qur’an diyakini sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki energy daya gubah dan gubah yang sangat luar biasa, serta sejenis pengaruh yang dapat melemahkan dan menguatkan jiwa seseorang. Peristiwa masuk Islamnya sayyidina Umar bin Khattab ra setelah membaca lembaran ayat-ayat al-Qur’an menjadi bukti kemukjizatan al-Qur’an secara psikologis ini.
    Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (Q.S. Al-Anfaal : 2)
    Selain fakta historis di atas, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh DR. Ahmad al-Qadhi tentang pengaruh ayat-ayat al-Qur’an terhadap kondisi psikologis dan fisologis manusia. Ia membuktikan bahwa al-Qur’an mampu menciptakan ketenangan batin (psikologi) dan mereduksi ketegangan-ketegangan saraf (fisiologis).
    Penelitian ini dilakukan terhadap lima sukarelawan non-muslim yang berusia antara 17-40 tahun dengan menggunakan alat ukur stress jenis MEDAQ 2002 (Medical Data Quetient) yang dilengkapi dengan software dan system detector elektronik hasil pengembangan Pusat Kedokteran Universitas Boston Amerika Serikat.
    Sebelum penelitian dimulai, setiap responden dipasangi empat jarum elektrik di tubuh masing-masing yang dikoneksikan ke mesin pengukur berbasis komputer. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dan mengukur reaksi urat saraf reflektif pada masing-masing organ tubuh responden.
    Pada uji coba pertama, kelima responden diperdengarkan 85 ayat kali ayat-ayat al-Qur’an secara mujawwad (tanpa lagu). Pada percobaan kedua, mereka diperdengarkan 85 kali kalimat-kalimat berbahasa arab biasa (bukan al-Qur’an) secara mujawwad. Pada percobaan ketiga 40 kali responden dibiarkan duduk membisu tanpa diperdengarkan apa-apa sambil menutup mata. Hasilnya, 65% responden yang mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an mendapat ketenangan batin dan ketegangan syarafnya turun hingga 97%.
    Selain berpengaruh pada orang dewasa, al-Qur’an juga memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam seminar Konseling dan Pesikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang diperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an dari tape recorder kepadanya, menunjukan respon tersenyum dan menjadi lebih tenang.
    Disamping sebagai potret jiwa dan raga, al-Qur’an juga berfungsi sebagai obat/terapi psikologis. Efek penyembuhan dengan memperdengarkan ayat-ayat al-Qur’an atau meminta pasien untuk membacanya terbukti sangat luar biasa.
    Al-Hafidz Abu Bakar Ibn Sunni menyampaikan sebuah riwayat dari Abdurrahman Ibn Abi Laila disebutkan, pernah seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: ”saudaraku sedang sakit wahai Rasulullah”. Nabi bertanya: “sakit apa saudaramu?” “sejenis penyakit hilang ingatan (gila)”, jawab laki-laki tersebut. lalu Rasul berkata: “bawalah Ia kepadaku” setelah si pasien dihadapkan kepada Rasul, lalu beliau memberikan terapi dengan memperdengarkan ayat-ayat al-Qur,an dari surah al-Fatihah, al-Baqarah ayat 2-5, 163-164, 225, 384-286, Ali Imran ayat 2 & 18, al-A’raf ayat 54, al-Mu’minun ayat 116, al-Jin ayat 3, al-Hasyr ayat 22-24, al-Ikhlas ayat 1-4, al-Falaq ayat 1-5, an-Nas ayat 1-6, setelah beberapa kali diterapi, si pasien sembuh dan normal kembali.
    Efek positif al-Qur’an secara psikolgis hanya akan berpengaruh pada orang yang benar-benar mampu bersahabat akrab dengannya. Bentuk keakraban dengan al-Quran tersebut bisa dengan membaca, menghayati dan mengamalkannya dengan penuh keyakinan, disiplin dan kontinyu (istiqomah).
    Membaca al-Qur’an dengan memahami maknanya melalui tafsir dan takwil dengan bimbingan seorang ustadz akan menghasilkan pencegahan, perlindungan dan penyembuhan dari banyak penyakit psikologis. Segala penyebab gangguan psikologis dan terganggunya eksistensi kejiwaan akan lenyap dengan menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
    Ketika seseorang mampu menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman hidup, berarti ia telah memiliki kepribadian Qur’ani. Kepribadian semacam ini diperoleh ketika seseorang telah berrhasil mentransformasikan isi kandungan al-Qur’an ke dalam dirinya, untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata. Proses transformasi dan internalisasi tersebt harus tercermin dalam semua dimensi nilai-nilai al-Qur’an yaitu dimensi I’tiqodiyah (keimanan), Khuluqiyah (etika) dan Amaliayah (perilaku).
    Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki al-Quran. Selain menjadi sebuah ibadah dalam membacanya, bacaanya juga memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, maka bacaan al-quran lebih dari itu karena selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan al-quran juga mempengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
    Oleh karena itu, marilah kita membudayakan gemar baca al-Qur’an dalam diri kita, keluarga, teman dan masyarakat di sekitar kita karena sungguh merupakan sebuah kerugian yang besar jika kita hanya menjadikan mushaf al-Qur’an sebagai koleksi dan hiasan rumah saja, tanpa pernah dijamah dan dibaca. Semoga Allah swt. Menanamkan kecintaan membaca mempelajari al-Qur’an dalam diri kita, keluarga kita, teman kita dan seluruh umat muslimin, Amin.

    more
  • Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Sosok Tawadhu’ yang Muttafaq ‘Alaih Kyai Hamid Pasuruan, begitulah beliau lebih dikenal, memang telah lama wafat hampir tiga dasawarsa yang lalu. Namun kemasyhuran beliau sebagai seorang wali dengan berbagai cerita karomahnya membuat pesarean pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah ini masih ramai menjadi tujuan ziarah dari pelosok Nusantara
    Kiai Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid.
    Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya.
    Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal. “Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang. Beliau bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH. Ma’shum (ayahanda KH. Ali Ma’shum Jogjakarta) dan KH. Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem.
    Ketika mulai beranjak remaja (ABG), dia mulai gemar belajar kanuragan (semacam ilmu kesaktian). Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur KH. Zaki Ubaid Pasuruan.
    Meski begitu, sejak kecil ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. Pada saat haji itulah namanya diganti menjadi Abdul Hamid.
    Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, K.H. Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya, untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH. Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH. Ali Ma’shum Jogjakarta (mantan rais am PB NU), KH. Masduqi Lasem, KH. Abdul Ghofur Pasuruan, KH. Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.
    Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.
    Tidak Suka Dipuja
    Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, beliau dipinang oleh pamandanya, KH. Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah. Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH. Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut. Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. Sayang, sang kakek tak sempat melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa.
    Seperti disebut dalam surat undangan, akad nikah akan dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H, selepas zhuhur pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung Al-Anwar) Pasuruan. Namun, rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan pengantin pria tak kunjung muncul hingga jam menunjuk pukul 2 siang. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren Salafiyah.
    Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu. Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, penganten kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan.
    Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya. Lima atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa sawah dan berdagang spare part dokar.
    Prihatin
    Hari-hari mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus berusaha dan berusaha.
    Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren. Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri — dua orang — yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain.
    Sekitar 1951, sepeninggal KH. Abdullah ibn Yasin yang jadi nazhir (pengasuh) Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH. Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir. Meski demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala tetek bengek sehari-hari, day to day, karena Kiai Aqib yang muda itu, masih belajar di Lasem. (Baca: Dunia Pesantren, Al-Bashiroh Vol. 6 Edisi 1, “Salafiyah, Tradisi Salaf Bercorak Modern”)
    Fenomenal
    Kiai Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah. Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya kurang terbiasa akan disiplin tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah, pengasuh pesantren sebelumnya.
    Walaupun tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu disediakan, yaitu madrasah klasikal.
    Perkembangan fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar. Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far As-Segaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar. Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang).

    Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi. Terutama ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas permintaan penduduk setempat.
    Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu. Bukan dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu.
    Beliau memang rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan. “Kiai Hamid selalu ndempis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.
    Riyadhah dan Mujahadah
    Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya. Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa disepelekan. “Yang paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang, pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas.
    Beliau sangat menghormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya sikap seorang santri kepada kiainya. Bila mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, di tahun 1982 ketika Abuya As-Sayid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki bertamu, beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil memijatinya. Padahal tamunya itu jauh lebih muda usia.
    Sikap tawadhu’ itulah, antara lain, rahasia “keberhasilan” beliau. Karena sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
    Melalui riyadhah dan mujahadah (memerangi hawa nafsu) yang panjang, beliau telah berhasil membersihkan hati beliau dari berbagai penyakit. Tidak hanya penyakit takabur dan amarah, tapi juga penyakit lainnya. Beliau sudah berhasil menghalau rasa iri dan dengki. Beliau sering mengarahkan orang untuk bertanya kepada kiai lain mengenai masalah tertentu. “Sampeyan tanya saja kepada Kiai Ghofur, beliau ahlinya,” kata beliau kepada seorang yang bertanya masalah fiqih. Beliau pernah marah kepada rombongan tamu yang telah jauh-jauh datang ke tempat beliau, dan mengabaikan kiai di kampung mereka. Beliau tak segan “memberikan” sejumlah santrinya kepada KH. Abdur Rahman, yang tinggal di sebelah rumahnya, dan kepada Ustaz Sholeh, keponakannya yang mengasuh Pondok Pesantren Hidayatus Salafiyah.
    Bagaimanapun beliau juga manusia yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi masyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah. Setelah sempat roboh beberapa hari sebelumnya dan dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
    Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu.

    more
  • القراءة أهم الوسائل للإستزادة من المعارف إن المشاهد اليوم من تطورة كبيرة في العالم سواء، ما يتجلى أمام الأعين من المخترعات الإلكتونية و ثورة التكنولوجيا أو العمران الفاخر من المبانى العالية الرشيقة وناطحات السحاب الشامخة الأنيقة التي لونت أغلب مناظر المدن فى مختلف الدول و غير ذلك من مناظر عصرنا الحديث دليل على أن ثقافة الإنسان خصوصا فيما تتعلق بالمعارف والعلوم التطبيقية تكون على نمو وارتقاء دائم
    ومن البديهى أن هذه الحقيقة لا توجد بدون سابق محاولة من الإنسان بالإضافة إلى طول العناء بداية من مرحلة التنظير والتفكير ونهاية إلى مرحلة التطبيق والتدبير سعيا لتحقيق الغاية ولكن سبقت كل هذه المراحل مرحلة مهمة جدا والتي تعد أساسا يعتمد عليه كل باحث و مخترع الا وهي القراءة فالقراءة إذن هي التي اكتشفت ما كان فى خبايا صفحات الكتب فقامت نظاريات علمية عديدة التي تصير حقيقة من حقائق التطور فيما بعد.
    من هنا نفهم مدى أهمية القراءة فى حياة الإنسان وهو من أجل أن يستزيد العلوم و يزود نفسه بالمعارف دوما وينتقل من دنايا الجهل إلى الحياة المثالية التي تزخر بالثراء العلمى المعرفي من باب الإستفادة الشخصية مقدما وإفادة للأجيال القادمة ثانيا.


    المعارف :wawasan/pengetahuan
    يتجلى :terbukti
    المخترعات :penemuan-penemuan baru
    الرشيقة :bagus/indah
    ناطحات السحاب :Pencakar langit
    ارتقاء دائم :Kemajuan yang berkesinambungan
    الثراء العلمى :kekayaan ilmiyah
    دنية ج دنايا :Rendah
    الأجيال القادمة :Generasi Baru
    المعرفي :Pengetahuan/Epistimologi

    more

Arsip Blog

Pengikut

Featured Video

Photos