Advertisement

Tampilkan postingan dengan label Dunia Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pesantren. Tampilkan semua postingan
  • Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Solusi ‘Pusat Studi Islam’ yang Representatif Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang merupakan salah satu pondok pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur yang hingga hari ini masih survive di tengah kecendrungan kuat sistem pendidikan formal. Dengan kultur dan kesederhanaan yang mandiri serta dekat dengan masyarakat, dalam usianya yang hampir dua abad, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang terus melakukan pengembangan dan perubahan seiring dengan dinamika perkembangan dan tuntutan global, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur kepesantrenan dan prinsip-prinsip aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.
    Tahun 1852 M, areal di sebelah utara kota Jombang tepatnya dusun Gedang kelurahan Tambakrejo masih berupa hutan belantara yang tak berpenghuni. Sampai akhirnya datang seorang ulama bernama Abdus Salam, beliau lebih dikenal dengan panggilan Mbah Shoichah, dengan membawa misi untuk menyebarkan agama dan ilmu yang dimilikinya.
    Menurut silsilah, beliau masih keturunan Raja Brawijaya (salah satu raja di Kerajaan Majapahit) dan merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro. Selama kurang lebih 13 tahun beliau bergelut dengan semak belukar dan kemudian menjadikan desa ini sebagai perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Setelah berhasil merubah hutan menjadi perkampungan, mulailah beliau membuat gubuk tempat beliau berdakwah. Yaitu sebuah pesantren kecil yang terdiri dari sebuah langgar, bilik kecil untuk santri dan tempat tinggal yang sederhana.
    Pondok pesantren tersebut dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Pondok Selawe (selawe: bhs. Jawa yang berarti Dua Puluh Lima) dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang. Disebut juga dengan Pondok Telu karena bidang atau materi keilmuan yang dikaji meliputi tiga ilmu. Yaitu Syari’at, Hakikat dan Kanuragan. Dari sisi lain dinamakan Pondok Telu karena jumlah bangunannya terdiri dari 3 lokal. Seiring berjalannya waktu pesantren ini semakin berkembang dan terus memberikan kesegaran suasana dan inovasi pendidikan berupa berbagai macam instansi pendidikan baik formal maupun non formal serta menjadi pusat pendidikan di kota Jombang.
    Secara geografis, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang terletak di dusun Tambak Beras, desa Tambakrejo, Kabupaten Jombang, provinsi Jawa Timur. Tepatnya 3 KM sebelah utara kota Jombang. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang secara keseluruhan menempati areal tanah 10 Ha. dengan sosio-kultur religius agraris.
    Sejarah panjang pondok pesantren ini, sejak awal rintisannya oleh kyai Shoichah, dikenal dengan nama Pondok selawe atau Pondok Telu. Lalu pada masa Kyai Hasbulloh pondok pesantren ini dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas. Hingga akhirnya pada masa Kyai Abdul Wahab Hasbulloh, pada tahun 1965, empat orang santri beliau dipanggil menghadap (sowan). Ke empat santri beliau tersebut adalah Ahmad Junaidi (bangil), M. Masrur Dimyati (Mojokerto), Abdulloh Yazid Sulaiman ( Jombang ), dan Moh. Syamsul Huda ( Jombang ). Keempat santri ini ditugasi mengajukan alternatif nama pondok pesantren. Walhasil keempat santri ini mengajukan 3 nama alternatif yaitu, Bahrul Ulum, Darul Hikmah, dan Mamba’ul Ulum. Dari ketiga nama yang diajukan, Kyai Abdul Wahab memilih nama Bahrul Ulum yang berarti “Lautan Ilmu” yang kelak diharapkan Tambakberas benar-benar menjadi lautan ilmu.
    Sistem Pendidikan
    Pendidikan (kegiatan belajar mengajar) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum dilaksanakan melalui dua jalur yaitu : Pendidikan formal dan pendidikan non formal (pendidikan di pesantren/diniyyah). Secara structural, unit pendidikan formal di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, dimana unit-unit pendidikan formal bertanggung jawab untuk menjalankan segala kebijakan yang telah ditetapkan bersama oleh pengurus yayasan. Pendidikan formal adalah kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara klasikal di sekolah / madrasah dengan menggunakan kurikulum tertentu (kurikulum DEPAG dan kurikulum DIKNAS ) dipadukan dengan kurikulum pesantren.
    Hingga saat ini terdapat 18 unit pendidikan formal mulai dari jenjang Pra sekolah sampai dengan Perguruan Tinggi. Pendidikan Formal Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum memiliki delapan belas lembaga yang meliputi : Play Group, TK Bahrul Ulum, MI Bahrul Ulum, MI Program Khusus, MTs Bahrul Ulum, MTs.N Tambakberas, SMP Bahrul Ulum, SMA Bahrul Ulum, SMK Bahrul Ulum, MA Bahrul Ulum, MA AL-I’Dadiyyah, MAWH Bahrul Ulum, MMA Bahrul Ulum, MAN Tambakberas, SMKTI Bahrul Ulum, STAI Bahrul Ulum, STMIK Bahrul Ulum dan STIKES Bahrul Ulum.
    Selain pendidikan formal di sekolah / madrasah , Pondok Pesantren Bahrul Ulum juga memiliki sisterm pendidikan non formal pada masing-masing unit asrama pondok pesantren. Pendidikan non formal ini pelaksanaannya ditangani langsung oleh pengasuh masing-masing asrama pondok pesantren atau orang yang telah mendapat mandat dari pengasuh (biasanya santri senior). Ada dua sistem pendidikan ini yaitu : Pendidikan Diniyyah dengan sistem klasikal dengan kurikulum yang telah ditetapkan, dan pengajian kitab-kitab kuning oleh pengasuh. Seperti layaknya pesantren salaf di Jawa, dalam pengajian kitab kuning ini menggunakan dua metode yaitu metode weton dan sorogan. Metode weton adalah pengasuh membacakan kitab dan menerangkannya sementara santri mendengarkan, memahami dan memaknai kitabnya masing-masing. Sedangkan metode Sorogan adalah santri yang membaca kitab dan menjelaskannya di hadapan pengasuh untuk diuji. Pengajian kitab oleh pengasuh asrama dilaksanakan tiap-tiap selesai sholat wajib di ndalem, musholla atau di masjid. Dan kitab yang dibaca masing-masing pengasuh sangat variatif.
    Pengasuh dan Tenaga Pengajar Pesantren
    Pondok Pesantren Bahrul Ulum sejak awal berdirinya pada tahun 1825 telah berkembang pesat dan menjadi salah satu Pusat Studi Islam yang representatif di negeri ini. Kolaborasi antara manajemen klasik dan modern dalam sistem manajemen pesantren ini mampu melahirkan produk-produk yang handal bahkan tidak jarang menjadi tokoh terkemuka, semisal KH. Abdurrahman Wahid yang pernah menjabat sebagai Presiden RI. Hal ini tentunya bukan karena faktor kebetulan, tetapi karena Pondok Pesantren Bahrul Ulum selalu mengembangkan desain kreativitas dan inovasi sistem pendidikannya dengan dukungan tenaga pengajar yang berkualitas.
    Sampai saat ini telah tersedia tidak kurang dari 500 orang tenaga pengajar unit pendidikan formal dengan dikawal ketat oleh 76 pengasuh yang mendampingi selama 24 jam. Kesemuannya mempunyai kemampuan dan kapabilitas yang tinggi sesuai dengan bidangnya. Sebagian besar adalah lulusan perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri. Namun demikian, komitmen, wawasan dan kompetensi mereka terus dikembangkan secara sistematis dan konsisten dari waktu ke waktu, baik dengan cara inservice training ataupun outservice training, secara formal, non formal ataupun informal. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan solusi yang efektif bagi perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum sesuai dengan dinamika perkembangan dan tuntutan global.
    Pondok Pesantren ini juga memberi wadah bagi para alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum, maka dibentuklah suatu organisasi yang bernama Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU ), Organisasi ini memiliki beberapa fungsi di antaranya: menjadi kekuatan penggerak silaturrahim dan ukhuwah diantara alumni beserta keluarga dengan keluarga Pondok Pesantren Bahrul Ulum dan meningkatkan peran serta alumni terhadap pengembangan pondok pesantren.(Syarwani & Usamah)

    more
  • Pondok Pesantren Darus Salam Surabaya Ibu kota surabaya yang kita kenal dengan keramaian dan hiruk pikuk perkotaan yang di sebut-sebut sebagai metropolitan kedua di negara kita, ternyata tidak mengharuskannya sepi dari dunia pesantren yang selama ini dianggap sebagai koloni sarungan, ketinggalan zaman, yang serasa tidak sesuai dengan kehidupan perkotaan seperti Surabaya. bukti riil dari hal tersebut adalah banyaknya pondok-pondok pesantren di berbagai sudut kota Surabaya yang sampai sekarang masih eksis mempertahankan aqidah yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, yaitu aqidah ahlussunnah wal jamaah. Di antara pondok-pondok tersebut adalah Pondok Pesantren Darussalam yang terletak di desa Tambak Madu 2/59 Surabaya.
    Pondok Darussalam adalah salah satu pondok yang dibangun dengan kualitas keikhlasan yang spesial oleh Ust. H. Noer Ahmad yang diperintah langsung oleh Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki. K.H. Noer Ahmad adalah saudagar kaya yang dikenal sebagai sosok yang dermawan, Muhibbin Habaib dan Ahlul Ilim, yang dengan sikapnya inilah beliau memiliki hubungan dekat dengan para Habaib dan kyai-kyai yang ada di Jawa timur sampai akhirnya beliau mendapat perintah dari Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki untuk mendirikan pesantren yang saat itu masih berupa langgar kecil (surau). Secara resmi pondok ini didirikan pada tanggal 15 Syawwal 1402 H yang bertepatan pada tanggal 5 Agustus 1982 M dengan didanai langsung oleh K.H Noer Ahmad yang di bantu oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki di bawah pimpinan putra K.H Noer Ahmad (K.H Muhyiddin Noer).
    K.H Muhyiddin Noer di saat itu adalah sosok pemuda yang memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu agama. Hal itu dapat dilihat dari sepak terjang beliau sebelum memimpin Pondok Pesantren Darussalam. Beliau pernah menjadi salah satu santri di P.P Salafiyah Syafiiyah Asem Bagus Sukerejo yang saat itu di pimpin oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin yang kemudian melanjutkan pendidikannya kepada Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki di Mekkah Al-Mukarromah. Setelah berlalu kurang lebih selama 4 tahun 7 bulan K.H Muhyiddin Noer pulang ke Indonesia untuk memimpin Pondok Pesantren Darussalam atas perintah Sayyid Muhammad.
    Secara geografis P.P Darussalam terletak di kawasan yang sebagian besar masyarakatnya beragama Nasrani. Struktur-struktur Nasrani yang berada di sekitar P.P Darussalam yang sampai sekarang masih ada, mulai dari struktur ibadah sampai pendidikan menunjukkan eksistensi mereka di kawasan tersebut. kegiatan-kegiatan mereka di antaranya adalah ibadah rutinitas ummat Nasrani di gereja-gereja dan pelajar-pelajar Nasrani yang belajar di lembaga-lembaga Nasrani yang berada di sekitar pondok. Tetapi dengan berdirinya Pondok Pesantren Darussalam lambat laun dapat meminimalisir aktifitas-aktifitas tersebut.
    Dalam catatan sejarah kepemimpinan K.H Muhyiddin,beliau banyak sekali menemui berbagai macam halangan dan hambatan, di antaranya adalah sihir yang beberapa kali beliau dapatkan. Pernah satu ketika beliau sakit parah dikarenakan sihir dari salah seorang yang tidak menyukai beliau, akan tetapi dengan kelembutan hati dan sifat pemaaf yang beliau miliki, beliau tidak mau membalas perbuatan tersebut walaupun beliau mengetahui sang pelaku. Selain kelembutan hati dan sifat pemaaf yang dimiliki beliau, beliau juga di kenal sebagai sosok yang pemberani dalam membasmi kemungkaran seperti perjudian, minuman keras dan lain sebagainya, bahkan pernah satu ketikabeliau membawa sebilah pedang kepada kumpulan orang-orang yang sedang bermain judi dan memerintahkan mereka untuk berhenti seraya berkata “Siapa yang tidak terima dengan perbuatan saya ini silahkan maju, kalau tidak berani kalian kumpulkan semua teman kalian dan tentukan tempatnya di mana, Insya’ Allah saya akan datang”.Tetapi tidak ada satu orangpun yang berani menjawab tantangan beliau.
    Seiring dengan berlalunya waktu, pondok ini terus berkembang sehingga menjelma menjadi satu media pendidikan bagi ummat islam yang di lengkapi dengan pendidikan formal. Namun di saat pondok ini mengalami kemajuan yang pesat K.H Muhyiddin berpulang kerahmatulloh yang kemudian digantikan oleh menantu kesayangannya yaitu K.H Muhammad Zubair yang kebetulan alumnus PP Darussalam dan Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.Kalau K.H Muhyiddin di kenal dengan sosok yang memiliki semangat da’wah yang menggebu-gebu beda halnya dengan sosok penerusnya K.H Muhammad Zubair yang lebih cendrung dengan sifat toleransi yang di milikinya. Memang dampak dari pergantian kepemimpinan mempengaruhi kuntitas santri Darussalam, namun keadaan tersebut berangsur-angsur membaik sehingga sampai sekarang.Dari sejak berdirinya Ponpes Darussalam sampai sekarang telah banyak melahirkan icon-icon yang mampu berperan di masyarakat dengan berbagai peranan mereka masing-masing.
    Secara garis besar santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tergolong dari masyarakat kurang mampu yang berasal dari berbagai kota di pulau jawa seperti Jakarta, solo, Madura, Surabaya dan lain-lain, bahkan karena masalah inilah pihak pengurus Ponpes Darussalam tidak membebani santri atau siswa yang belajar di ponpes Darussalam dengan biaya pendidikan yang tinggi. Untuk pendaftaran cuma membutuhkan uang sebesar Rp.350.000 dengan uang bulanan sebesar Rp.50.000. Selain di kenal dengan pendidikan agamanya yang mumpuni, Ponpes Darussalam juga memiliki pendidikan formal mulai dari jenjang Ibtidaiyah (SD) sampai Madrasah Aliyah (SMA) yang tidak kalah saingnya dengan pendidikan formal lainnya.Santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tidak semuanya bermukim di asrama Ponpes di karenakan kurangnya asrama yang ada, bahkan karena masalah inilah pihak pondok menolak santri yang datang dari luar jawa.
    Adapun metode belajar yang di gunakan di Ponpes Darussalam tetap mengacu pada metode ulama-ulama salaf yaitu dengan menghatamkan satu kitab kemudian pindah ke kitab yang lainnya. Adapun keinginan pimpinan Ponpes Darussalam dari santri-santri yang belajar adalah mengamalkan ilmunya dan dicintai oleh Allah dan Rosulnya.

    more
  • MA’HAD PENGEMBANGAN DAN DAKWAH NURUL HAROMAIN: PUSAT DAKWAH MUSUH MISIONARIS Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain terletak di Desa Ngroto Kecamatan Pujon Kabupaten Malang, berada di lintasan jalur Malang - Kediri dan Jombang, sekitar 30 kilometer arah barat kota Malang. Secara geografis berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut dengan temperatur rata-rata 17-19° C dan bahkan pada suatu saat di bawah 15° C. Panorama alam sekitar Ma’had adalah daerah pertanian yang sangat subur, dikelilingi gunung Arjuna dan gunung Kawi serta gunung-gunung lain dengan hiasan teraseringnya.

    Ma’had ini mulai dirintis pada tahun 1986 oleh As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Ketika memulai membangun Ma’had Nurul Haromain ini, Abuya (panggilan akrab As Sayyid Muhammad al Maliki) tidak menentukan ma’had ini dibangun untuk siapa, dan berpesan kepada KHM. Ihya’ Ulumiddin yang diserahi untuk mengawasi pembangunan “Jangan menerima bantuan dari siapapun, ma’had ini pendanaannya akan saya ambilkan murni dari saku pribadiku.” Akhirnya setelah lima tahun, bangunan pertama ma’had yang terdiri dari mushalla, asrama santri dan tempat tinggal pengasuh selesai dikerjakan. Mendapat laporan ini, Abuya sempat menawarkan “Bagaimana menurutmu, apa sebaiknya bangunan itu dijual saja?“ Mendengar ini kontan KH Ihya’ kaget dan bertanya “Dijual, Abuya?” dengan perasaan heran. Akhirnya Abuya memerintahkan KH Ihya’ sendiri agar menjadi pengasuh ma’had tersebut.

    KH. Ihya’ Ulumiddin merupakan salah satu santri Abuya As Sayyid Muhammad Alawi angkatan pertama. Beliau belajar di ma’had Abuya di Makkah selama kurang lebih 4 tahun setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikannya di Ma’had Langitan Tuban. Setelah pulang ke Indonesia, hari-harinya selalu diisi dengan mengajar dari satu ma’had ke ma’had lain, membina halaqah di berbagai kampus di Surabaya, dan tak lupa juga berdakwah di sekitar tempat tinggalnya. Beliau dipercaya oleh Abuya sebagai tangan kanan Abuya untuk mengurus urusan-urusan Abuya di Indonesia dan menghimpun segala informasi yang terjadi di Indonesia terkait teman-teman beliau sesama alumni Abuya. Hal ini dilakukan agar terus terjalin ikatan antara Abuya dengan santri-santrinya,

    Sejak 1 Dzulqo’dah 1411 H Ma’had Nurul Haromain mulai dibuka dengan 10 orang santri dari sebelas orang pendaftar. Semuanya alumni dari Ma’had Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih. Setiap tahun santri bertambah, namun di Ma’had Nurul Haromain ini jumlah santri dibatasi sebanyak 40 orang saja, sesuai pesan Abuya Sayyid Muhammad Alawi. Dengan jumlah itu, Abi (panggilan akrab para santri kepada pengasuh) akan bisa mengenal karakter, watak dan kemampuan masing-masing santri, sekaligus bisa mengawasi, mentarbiyah, membina dan membimbing perilaku keseharian mereka secara langsung dan mendalam.

    Sebagai ma’had pengembangan, Ma’had Nurul Haromain hanya menerima santri yang telah lulus jenjang aliyah ma’had atau yang setara dan lulus tes. Di ma’had ini, hadits menjadi kurikulum yang mendominasi. Shohih Bukhori, Muslim, Sunan Abu Dawud dan Tirmidzi adalah pelajaran wajib yang diterima oleh para santri. Di ma’had ini hadits tidak hanya dibaca dengan makna gandulnya, tetapi dipelajari secara menyeluruh dari sisi asbabul wurud, arah tujuan dan kaitannya dengan suatu ayat atau hadits lain serta hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Jadi tidak jarang apabila penjelasan satu hadits bisa memakan waktu satu jam lebih yang tentu saja itu semua dengan mengacu kepada pemahaman para ulama salaf. Selain hadits materi kajian lainnya seperti: tafsir, fiqh, dan aqidah juga menjadi materi yang diprioritaskan. Hal tersebut menjadikan para santri kaya wawasan, banyak mengenal dan membaca pendapat berbeda beberapa ulama dalam satu masalah.

    Metode Pendidikan dan Dakwah
    Dalam mendidik rohani santri, ma’had ini mewajibkan para santri sholat tahajjud dan witir berjama’ah sekitar pukul 02.30, dilanjutkan dengan membaca hasbanah dan lathifiyyah serta wirid-wirid lain. Selesai wirid, para santri melakukan haj’ah (tidur sebentar menunggu datangnya waktu shalat shubuh), lalu sholat shubuh dan membaca wirdullathif serta beberapa bacaan sholawat hingga matahari terbit dilanjutkan dengan sholat Isyroq dan Dhuha. Aktivitas selanjutnya adalah ta’lim pagi hingga pukul 07.30. Setelah makan pagi, pukul 09.30 mudzakaroh bersama hingga menjelang zhuhur. Usai sholat zhuhur, para santri membaca wirid dhuhur, makan siang dan istirahat sampai menjelang Ashar. Usai sholat Ashar para santri mengajar anak-anak membaca Al Qur’an di desa-desa terdekat. Pulang mengajar, para santri kembali ke ma’had untuk sholat Maghrib berjamaah dan membaca wirid sampai Isya’, makan malam, dan ta’lim. Santri lalu istirahat pada pukul 10.00 malam. Kegiatan ini berjalan dari hari Senin sampai Kamis. Aktivitas padat yang harus dijalani oleh santri di ma’had ini memang sebuah metode tarbiyah tasyghiutl thullab (membuat para santri sibuk) yang didapatkan pengasuh dari Sang Guru Besar Abuya As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani.

    Setiap Kamis sore, para santri berangkat ke tempat dakwah masing-masing yang berada di desa-desa di sekitar Malang dan Jombang. Para santri dilatih untuk terjun langsung berinteraksi, berdakwah, dan menyampaikan kepada masyarakat ilmu yang telah didapatnya dalam empat hari ta’lim di ma’had. Selain itu, kegiatan dakwah mingguan ini juga untuk menumbuhkan semangat dan jiwa dakwah yang dewasa ini sudah mulai luntur dari orang-orang berilmu (khususnya alumni pesantren) yang karena tidak terbiasa akhirya hilang kepercayaan diri untuk berdakwah. Desakan ekonomi dan kebutuhan hidup yang semakin mendesak kadang juga membuat mereka banting setir dengan bekerja dan meninggalkan kewajibannya sebagai orang berilmu untuk berdakwah.

    Ma’had ini sungguh sesuai dengan keadaan masyarakat sekitar. Sebab Ma’had Nurul Haromain berada di tengah-tengah masyarakat yang tergolong minus agama. Hal ini menjadikan peluang terbuka bagi para misionaris Kristen untuk bergentayangan melakukan usaha pengkafiran. Maka tidak mengherankan jika pada tahun-tahun awal, para santri pesantren ini sering terlibat dalam konflik dengan para misionaris. Ketelatenan dan kontinuitas dakwah sedikit demi sedikit akhirnya mampu menumpulkan usaha-usaha para misionaris Kristen. Boleh dikatakan gerakan tanshir (kristenisasi) di daerah Pujon sekarang ini mati. Hal ini sesuai dengan doa Abuya As Sayyid Muhammad Alawi ketika membangun ma’had ini. Beliau berdoa semoga ma’had ini menjadi markaz (pusat) dakwah Islam, Allohummaj’al hadzal ma’had markazan lidda’wah.

    Di antara langkah yang ditempuh ma’had ini dalam berdakwah adalah dengan bergaul dekat, akrab bersama masyarakat. Dakwah yang simpatik dilakukan para santri dengan tanpa risih dan segan bergerilya, berkunjung dari satu rumah ke rumah lain bertanya kepada penduduk bagaimana keadaan, apa pekerjaan, berapa jumlah anak dan cucunya?. Ini semua menyebabkan masyarakat merasa diperhatikan sehingga tumbuhlah keterikatan hati mereka dengan para santri. Pada malam Ahad, semua santri datang. Ahad pagi, setelah subuh mereka membaca Maulid Nabawi atau melakukan latihan mental, berceramah di hadapan teman - teman sendiri dengan topik-topik yang telah ditentukan. Sekitar pukul 07.00, para santri melakukan olahraga di lapangan desa Ngroto yang kebetulan tidak jauh jaraknya. Setelah berolahraga dan sarapan, para santri mengikuti ma’arif ‘am - sebuah kegiatan pengembangan pengetahuan wawasan umum.

    Di samping menjalin hubungan baik dengan masyarakat, ma’had ini juga menjalin hubungan dengan kampus-kampus yang ada di Malang dan Surabaya. Sebagian santri dikirim ke kampus untuk membuka halaqoh ilmu membina para mahasiswa. Tidak jarang para mahasiswa mahasiswi datang dan menginap di ma’had selama beberapa hari untuk menyelenggarakan training keagamaan, atau pendalaman agama secara praktis. Adanya interaksi antara pesantren dengan dunia akademik (kampus) ini mendorong terjadinya barter ilmu pengetahuan dan pengalaman. Di satu sisi, santri mendapatkan informasi atau data baru tentang perkembangan terkini dan di sisi lain para mahasiswa juga bisa melihat gambar hidup dari Islam yang dilakonkan para santri. Interaksi yang cukup intens antara santri dan mahasiswa di pesantren ini membuahkan banyak sekali manfaat bagi kedua belak pihak.

    Para santri Nurul Haromain, meski sama sekali tidak dipungut biaya (SPP atau syahriyyah) alias gratis, juga mendapatkan kesempatan mengembangkan wawasan umum seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, komputer, kajian kristologi, pemikiran kontemporer, latihan tulis-menulis, serta latihan keterampilan lain.

    Jika pesentren putra menjadi tempat menempa para da’i, maka mulai tahun 2003 Nurul Haromain juga membuka ma’had putri. Selain mengaji, para santri putri juga mengikuti kuliah di kampus PGTK (Pendidikan Guru TK) yang berada satu komplek dengan Play Group, SDIT, SMP Plus, dan SMK Nurul Haromain. Hal yang cukup menggembirakan, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, para santri puteri Nurul Haromain cukup mendapat simpati dari berbagai instansi pendidikan, khususnya Play Group dan TK.


    Alumni
    Setelah menimba ilmu di Nurul Haromain selama kurang lebih 3 tahun (batas minimal menjadi santri Nurul Haromain), sebagian santri mengemban tugas menyebarkan dakwah Islam ke berbagai daerah. Saat ini para da’i alumni Ma’had Nurul Haromain telah tersebar ke berbagai daerah di Pulau Jawa, Madura, Batam, dan Papua. Mereka mendirikan pesantren-pesantren cabang, majelis-majelis ta’lim, berbagai lembaga pendidikan Islam formal di tempat tugasnya. Saat ini telah berdiri kurang lebih 25 pesantren cabang, 15 LPI (Lembaga Pendidikan Islam), dan puluhan majelis ta’lim yang berada di bawah Persyarikatan Dakwah Al Haromain (PERSYADHA). Sebagian santri lainnya melanjutkan pendidikan ke Abuya As Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi Al Maliki Makkah. Untuk terus menjalin ikatan dengan santri dan menyatukan gerak langkah dakwah, maka para santri, alumni, dan seluruh anggota PERSYADHA wajib mengikuti taushiyah bulanan oleh KH. Ihya’ Ulumiddin. Selain taushiyah bulanan, mereka juga wajib hadir dalam Multaqo Sanawi (pertemuan tahunan), Istihlal, dan Maulid Nabi.

    more

Arsip Blog

Pengikut

Featured Video

Photos