Advertisement

  • Tentang Syi’ir Pujian untuk Rasulullah Terlalu berlebihan dan ekstrem dalam memurnikan ajaran islam telah membawa seseorang kepada hal-hal yang salah dalam memahami praktek ibadah. Di antara kesalahan itu adalah menyalahkan saudara seiman karena membaca syi’ir meskipun bacaan tersebut berisi pujian untuk nabi Muhammad. Pujian kepada Rasulullah dianggap terlalu berlebihan dan fakta yang terjadi di kaum muslimin telah membawa pelakunya ke dalam kekafiran atau syirik. Syirik karena pujian-pujian itu berisi bait-bait yang menyekutukan Allah, mencampur aduk sifat Allah atau menisbahkan sebuah pekerjaan yang hanya merupakan pekerjaaNya kepada makhluknya. Al-imam al-bushiri, pengarang qasidah yang dikenal dengan nama burdah, sering menjadi sasaran kritik dalam masalah ini. Mereka bahkan mengatakan bahwa burdah adalah qasidah syirik.
    Memuji Rasulullah adalah sebuah hal terpuji. Para sahabat Rasulullah seringkali mengungkapkan pujian kepada Rasulullah dalam gubahan syi'ir di depan beliau, bahkan menyampaikannya ketika sedang berada di masjid. Rasulullah pun senang dengan pujian syi'ir yang mereka lantunkan. Terdapat beberapa sahabat yang dikenal sebagai penyair di era nabi, di antaranya adalah Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rowahah, dan Ka'ab bin Zuhair. Sebuah syi'ir yang terkenal dalam memuji Rasulullah adalah syi'ir Ka'ab bin Zuhair yang dikenal dengan "banat su'ad". Syair ini secara keseluruhan berjumlah 34 bait.
    Ka’ab bin Zuhair adalah seorang penyair. Sebelum memeluk islam, ia pernah membuat tiga bait syi’ir yang membuat nabi murka dan menghalalkan darahnya. Dalam syi’ir itu ia mencela kakaknya, Bujair bin Ka’ab yang telah masuk islam setelah bertemu nabi dan dalam syi’ir itu pula ia menyebut nama Abu Bakar dan mencelanya. Ketika syi’ir ini sampai ke telinga Rasulullah, beliau berkata, “siapa yang bertemu ka’ab, maka bunuhlah dia”. Mendengar nabi saw murka, Bujair mengiriminya sebuah surat untuk mengabarinya tentang sabda Nabi tersebut dan mengajaknya untuk masuk islam. Maka ia pun datang ke kota Madinah untuk menyatakan islamnya dan menemui nabi yang ketika itu sedang berada di masjid. Ia pun menyatakan keislamannya di depan nabi dan merubah isi syair yang mencela Abu Bakar lalu melantunkan sebuah syi’ir yang keindahannya diakui oleh para pakar bahasa, yang diawali dengan bait banat su’adu fa qolbil yauma matbulu.

    متيم إثرها لم يفد مكبول بانت سعاد فقلبي اليوم
    مهند بسيف من سيوف الله مسلول ان الرسول لسيف يستضاء به

    Ketika ka’ab sedang melantunkan syi’irnya tersebut, Rasulullah memberi isyarat kepada sahabatnya untuk mendengarkan bahkan Rasulullah lalu memberinya hadiah berupa sebuah burdah. Cerita tentang ka’ab bin zuhair diriwayatkan selengkapnya oleh al-Hakim dalam al mustadrok ala as-shohihain, juga disebutkan dalam al-ishobah karangan Ibnu Hajar al-Asqollani dan usdul ghobah karya Ibnul Atsir.
    Dari cerita di atas, dapat kita lihat bahwa bersyi’ir yang berisi pujian untuk Rasulullah bukan merupakan hal tercela. Rasulullah sendiri senang dengan pujian yang ditujukan padanya dan menyuruh para sahabat untuk menyimaknya meskipun syi’ir itu disampaikan di dalam masjid. Tidak berhenti di situ, Rasulullah pun memberikan hadiah untuk sang penggubah syi’ir. Ka’ab bin Zuhair, seorang yang pada mulanya dihalalkan darahnya, diperintah untuk dibunuh, berkat syi’ir yang ia gubah berubah menjadi seorang yang didengar ucapannya oleh Rasulullah dan mendapat hadiah langsung darinya.
    Tentang syirik yang dituduhkan mereka kepada al-imam al-Bushiri karena menyifati makhluknya (baca: Rasulullah) dengan sifat yang merupakan sifatNya dan menisbahkan pekerjaan yang hanya merupakan pekerjaan Allah kepada makhluknya seperti memberi hidayah, syafaat dan semisalnya, itu semua disebabkan kesalahan mereka dalam memahami bait-bait pujian tidak dengan proporsional. Mereka menggunakan dalil sebuah hadis, “jangan berlebihan dalam memujiku seperti orang nashrani memuji Isa putra Maryam”. Hadis ini bukanlah larangan dalam berlebihan memuji nabi, tetapi larangan untuk menuhankan Rasulullah sebagaimana kaum nashrani menuhankan nabi Isa alaihis salam. Bukankah Allah sendiri telah menyebut hambanya tersebut dengan sebutan ro’uf dan rohim dalam al-qur’an padahal Allah merupakan yang rohim seperti tersebut dalam basmalah? Mereka juga salah dalam mengartikan tawassul sebagai syirik karena meminta kepada selain Allah.
    Ini merupakan problem klasik yang telah diulas, dibantah dan dijawab berulang kali oleh ulama ahlussunnah melalui berbagai tulisan mereka.

    more
  • KAMUS 'ASHRIYYAH Manhaj Sederhana Berbahasa Arab Sehari-Hari RESENSI KITAB

    KAMUS 'ASHRIYYAH
    Ad-Da’i Ilalloh Al-Lughowi Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun

    Manhaj Sederhana Berbahasa Arab Sehari-Hari

    Sudah banyak penjelasan dan dalil tentang keutamaan berbahasa Arab dan jika disebutkan satu persatu dalam tulisan ini tidaklah cukup dan rasanya ini bukan tempat untuk membahasnya maka lihatlah di kitab-kitab Muthowwalat. Sebenarnya Penulisan Al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab sudah cukup sebagai dalil akan keutamaan dan kemuliaannya bahasa Arab bahkan Al-Qur’an sendirilah yang menegaskan akan dirinya berbahasa Arab. Dan Orang Yang Paling Fasih telah menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari.

    Bahasa Arab Di Indonesia
    Nama asli kamus karya Abuya Habib Hasan Baharun ini adalah Majmu’aat ‘Ashriyah Fil Lughoh Al-‘Arobiyah (Bahasa Dunia Islam) namun lebih dikenal dengan Kamus ‘Ashriyah, kamus ini hadir sebagai kebangkitan bahasa Arab khusunya di Indonesia paska (setelah) penjajahan Belanda dan Negara yang berbahasa Melayu pada umumnya seperti Malaysia, Brunei dan sebagian Singapura. Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan dirosah bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu parallel (bersambung) dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.
    Dilihat dari konsepnya kamus ‘Ashriyah mempunyai ciri yang berbeda dengan kamus pencarian bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang disusun secara Harfiyah (alphabet) pada umumnya, dan jika ditinjau secara metodologi (ilmu tentang permetode-an) Kamus ‘Asriyah lebih sederhana dan cenderung pada salah satu manhaj penerapan Muhawarah Berbahasa Arab dengan panduan yang telah disusun secara sistematis oleh penyusunnya dan akan kami hadirkan nanti, bukan pada teknik terjemah seperti kamus yang beredar. Tinjuannya adalah dengan penelitian penyusunan dan pengumpulan Kamus ‘Ashriyah. Kamus ini memuat sepuluh bagian dengan empat bagian yang sering dipakai sehari-hari dan setiap bagian mempunyai sub-bagian yang terdiri dari bab-bab, bagian pertama kata benda (Al-Asma’), bagian kedua kata kerja (Al-Af’al), bagian ketiga kata-kata penghubung (Al-Ahruf) dan bagian keempat kata-kata modern (Al-Kalimah Al-‘Ashriyah). Bagian-bagian tersebut memiliki kosakata (mufradaat) yang bisa dianggap berkaitan dengan aktivitas sehari-hari sehingga setiap anak didik bisa mencari mufradat dengan mudah di kamus yang sesuai kondisinya, dengan begitu anak didik bisa menerapkan muhawarah bahasa arab dengan manhaj yang sederhana. Contoh bab yang termuat di dalamnya yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari adalah di bagian pertama dimulai dari sesuatu yang berhubungan dengan manusia dan anggotanya, keluarga, rumah dan isinya, dapur sampai jenis makanan, begitu juga terkait olahraga, waktu, perdagangan dan peridustrian dan seterusnya. Agar terpadu dibagian kedua kata kerja disusun sebagai bentuk kerja kata benda yang ada di bagian pertama tadi maka dengan begitu anak didik bias menggunakan kata benda dalam percakapan dengan adanya kata kerja. Sedangkan kata penghubung berfungsi menyambung kalimat antara Isim dan Fi’il atau sebaliknya yang sudah kita ketahui fungsi-fungsinyanya di kitab-kitab Nahwu. Dan di bab keempat dikumpulkan Kata-kata Modern untuk mengimbangi arus perkembangan yang terjadi.
    Selanjutnya di bagian berikutnya Kamus ‘Ashriyah memuat sinonim (Al-Muradifat) kata dan antonim (Al-Adldad) supaya percakapan tetap hidup dan menarik tidak menoton dengan kata itu-itu terus. Cara surat-menyurat untuk membiasakan mengarang (insya’) karena insya’ juga sangat membantu dalam percakapan dengan beberapa contoh surat-menyurat dan terakhir contoh-contoh khutbah berbahasa Arab sebagai sarana dakwah dan membiasakan anak didik berpodium menyelam sambil minum air karena bisa mendapat dua manfaat melancarkan percakapan dan menguatkan mental di depan umum, sederhana kitabnya tidak terlalu tebal seperti kamus-kamus biasanya karena kesederhanaanya itu insya Allah anak didik lebih cepat menyerap dan menerapkannya.
    Hal-Hal Terkait Berbahasa Arab
    Ada sebuah anggapan jika orang yang tidak berbahasa inggris ingin mahir berbahasa inggris dia harus menguasai dan hafal 9.500 kosa-katanya dan ini juga berlaku bagi orang yang tidak berbahasa arab yang ingin berbicara dengan bahasa arab. Kalau memang benar adanya maka kamus ‘asrhiyah ini harus juga memuat 9.500 kosa-kata tanpa pengulangan untuk menjadi standar teknik penerapan bahasa arab, namun dalam kenyataannya kamus ‘ashriyah mufradaatnya tidak sampai 9.500 hanya memuat sekitar 5.000 mufradaat. Seandainya anggapan itu benar maka untuk menjadi standart kamus ‘Ashriyah harus ditambah jumlah mufradatnya yang sampai pada angka tadi, tapi ada catatan mufradat bahasa arab berbeda dengan bahasa inggris, bahasa arab mempunyai Amtsilah Tasrifiyah sepuluh (perubahan bentuk dari satu kata kekata yang lain) dari fi’il madi sampai isim alat lebih banyak dibanding bahasa inggris yang hanya punya tiga perubahan bentuk saja. artinya mufradat yang ada di kamus ‘ashriyah bisa mencapai angka itu bahkan bisa lebih. Walaupun hanya berupa anggapan atau asumsi tapi asumsi ini mendekati valid (shahih) mengingat bahasa arab bukanlah bahasa ibu bagi bangsa Indonesia maka otak kita harus banyak menyerap mufradat bahasa arab untuk menguasainya dan teknik penyerapan terbaik adalah hafalan dan diterapkan. Dua hal mengahafal dan penerapan memiliki ikatan satu sama lain karena menghafal saja tidak cukup, karena tujuannya adalah bercakap-cakap menggunakan bahasa arab sehari-hari, dan percakapan tidak akan berfungsi tanpa menghafal terlebih dahulu, penerapan menjaga hafalan tetap kuat dan hafalan sebagai sarana menjalankan penerapan. Inilah yang kami maksud dengan panduan yang telah disusun secara sistematis oleh penyusun di atas, seperti yang pernah di sampaikan oleh Abuya Hasan penyusun kamus: bahwa belajar bahasa arab cukup dengan satu jam saja tapi penerpan tidak cukup seribu jam.
    Sang penyusun Ad-da’I Ilallah Abuya Hasan dikenal seorang da’I yang sering berdakwah diberbagai medan dari dunia pendidikan sampai dunia kemasyarakatan beliau dikenal sebagai figure yang ramah dengan masyarakat desa terutama fakir miskin, santun bergaul dan mempunyai semangat yang kuat dalam menyampaikan dakwahnya sampai keluar pulau, dari Madura ke jawa dari jawa ke Kalimantan terutama di Pontianak. Di Pontianak beliau mendapat sambutan yang tinggi dari masyarakatnya berkat sumbangsingsih dan kesantunan dakwahnya setelah berbagai ujian beliau lalui hingga akhirnya beliau kembali ke jawa atas perintah umminya agar lebih efisien, maka beliau curahkan tenaganya dengan membangun pesantren yang beliau basisi dengan bahasa arab dan dakwah. beliau termasuk penulis yang berpengaruh ada beberapa tulisan beliau yang terkenal salah satunya kamus ini dan muhawarah bahasa arab, para penulis sepakat kalau penulis produktif sangat sulit menjadi penulis kreatif begitu juga sebaliknya, jika ditinjau dari dua hal tadi “saya” simpulkan beliau termasuk penulis kreatif yakni tidak begitu banyak membuat karangan tapi setiap karangannya dijadikan literature bahkan panduan.

    Kesederhanaannya Membuat Gampang Berbahasa Arab
    Sudah banyak pakar pendidikan yang melakukan pengembangan bahasa arab mulai dari universitas lembaga kursus dan lembaga pembelajaran yang berkompeten dalam bidangnya terutama pensantren sebagai tangan estafet pertama pertemuan bahasa arab dengan Indonesia namun pada kenyaataannya lembaga-lembaga tersebut belum bisa memenuhi target bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari, bahkan pesantren sebagai tulang punggungnya selama ini masih kesulitan menciptakan bi’ah percakapan bahasa arab mereka hanya lebih fokus pada teknik nahwunya saja (gramer dalam bahasa inggris) yang lebih menekankan pada teknik penulisan dan kaidah belum sampai pada praktek.
    Maka tidak salah jika abuya hasan mencurahkan tenaga dan pikirannya pada bahasa arab percakapan, beliau susun caranya dan panduannya hingga akhirnya jadilah kamus asriyah. “ pertama, beliau memandang bahwasannya bahasa arab merupakan pintu untuk membuka jalan pemahaman agama, bagi yang ingin memperdalam ilmu-ilmu agama. Kedua beliua melihat bahwa bahasa arab adalah bahasa internasional yang digunakan untuk berdakwah dan berkomunikasi di luar negeri. Ketiga, karena orang-orang sudah meninggalakan bahasa arab, dan beliau menyakinkan bahwa berbicara menggunakan bahasa arab dengan niat Ittibain Nabi akan bernilai ibadah dan berbicara merupakan aktivitas terbanyak di keseharian kita kalau disertai dengan bahasa arab maka sehari-hari kita penuh dengan ibadah” (kutipan wawancara di elbashiroh edisi 16). Begitu besar beliau curahkan semuanya di bahasa arab sampai Al-Muhaddits Sayyid Muhammad Al-Maliki mengapresiasi memberikan Taqridl (kata pengantar) bahwa bahasa arab adalah pilar pertama berdakwah dijalan Allah dan paling mulianya kaidah serta dasar-dasar penyebaran islam.
    Kamus ‘Ashriyah di susun oleh Abuya Hasan sesederhana mungkin sebagai pengabdiannya pada bahasa Nabi, manhaj sederhana bermuhawarah bahasa arab sesederhana mungkin hanya menghafal dan menerapkan hafalan itu sebisa mungkin sampai para pembaca menemukan sir-nya misal jika kita tidak tahu sebuah mufadat bahasa arab kita bisa menyambungnya dengan bahasa Indonesia: Uridu Ila Pasar . tidak apa-apa menggunakannya karena yang penting hanyalah pembiasaannya. Agar cita-cita kamus ini sampai pada tujuannya dan terutama harapan pengarangnya membumikan bahasa arab di bumi pertiwi ini merasa senang adalah jika orang-orang yang bernasab padanya baik yang bernasab secara ilmu apalagi yang bernasab darah dengan Abuya Hasan untuk melestarikannya.

    more
  • Raja Dan Empat Orang Permaisuri by Muhammad Idrus Ramli

    Pada zaman dahulu ada seorang raja yang memiliki empat orang permaisuri. Namanya raja, tentu ia memilih wanita yang cantik-cantik sebagai permaisurinya. Hanya saja Sang Raja memperlakukan keempat permaisurinya secara tidak adil. Sang Raja mencintai permaisuri termudanya (yang nomor empat) sangat berlebihan. Ia pun selalu berusaha memenuhi segala kebutuhan dan permintaan permaisuri termuda ini hanya untuk memenuhi hasratnya dan meraih cintanya.
    Sedangkan permaisuri ketiga, Sang Raja juga mencintainya. Hanya saja Sang Raja merasakan, bahwa permaisuri ketiga ini terkadang meninggalkannya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
    Lain halnya dengan permaisuri kedua. Ia selalu menjadi tumpuan Sang Raja setiap menghadapi kesulitan. Ia pun selalu mendengarkan dan memperhatikan keluh kesah Sang Raja dalam setiap menghadapi kesulitan. Bahkan tidak jarang, permaisuri kedua ini seringkali terlihat merasa prihatin dengan kesulitan yang dihadapi Sang Raja, suaminya.
    Sedangkan permaisuri pertama dan tertua, Sang Raja tidak pernah memperhatikannya. Hak-haknya sebagai permaisuri pun tidak pernah dipenuhi oleh suaminya. Kehidupannya terbengkalai akibat korban ketidakadilan suaminya terhadap permaisuri-permaisurinya. Padahal permaisuri pertama ini sangat mencintai Sang Raja. Dan dia pula yang berperan besar dalam menjaga kerajaannya.
    Suatu saat, Sang Raja mengalami sakit keras. Ia pun merasakan bahwa ajalnya sudah di ambang pintu. Maut akan segera menjemputnya. Akhirnya Sang Raja berpikir, "Aku sekarang memiliki empat orang permaisuri. Sebentar lagi maut akan segera menjemputku. Aku tidak mungkin pergi ke alam kubur sendirian." Demikian pikiran yang menggelayut dalam benaknya.
    Sang Raja memanggil permaisuri termudanya yang memang sangat dimanjanya, sehingga semua kebutuhan dan permintaannya selalu dipenuhinya. Raja berkata kepadanya, "Aku sangat mencintaimu melebihi permaisuriku yang lain. Aku telah memenuhi segala keinginan dan permintaanmu. Namun kini sepertinya ajal akan segera menjemputku. Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kamu rela bersamaku sebagai pendamping dan penghiburku nanti di alam kubur?" Sang permaisuri menjawab, "Ini tidak mungkin terjadi." Segera permaisuri itu meninggalkan Sang Raja yang tekulai lemas tidak berdaya itu tanpa menampakkan rasa kasih sayang sedikitpun.
    Lalu Sang Raja memanggil permaisuri ketiga dan berkata kepadanya, "Aku mencintaimu seumur hidupku. Sekarang ajalku sudah diambang pintu. Bersediakah kamu menemaniku di alam kuburku nanti?" Permaisuri ketiga ini menjawab, "Tentu saja tidak. Hidup ini sangat indah. Dan setelah kematianmu, aku akan segera pergi dan menikah dengan laki-laki lain."
    Lalu Sang Raja memanggil permaisuri kedua dan berkata kepadanya, "Selama hidupku aku selalu mengadu dan mengeluh kepadamu dalam setiap kesulitan yang aku hadapi. Telah begitu banyak pengorbananmu untukku. Dan selama ini kamu selalu setia membantuku. Sekarang aku akan bertanya kepadamu, bersediakah kamu menemaniku di alam kubur nanti?" Dengan penuh perhatian dan lemah lembut, permaisuri ini menjawab, "Maafkan aku suamiku. Aku tidak mungkin memenuhi permintaanmu. Aku hanya bisa mengantarmu nanti sampai ke keburmu."
    Setelah mendengar penolakan ketiga permaisurinya untuk menemaninya di alam kubur nanti, akhirnya Sang Raja merasa susah dan bersedih hati menghadapi detik-detik kematiannya. Tiba-tiba ia mendengar suara dari kejauhan berkata kepadanya, "Aku siap menemanimu di alam kuburmu nanti. Aku akan selalu bersamamu kemana pun kamu pergi." Sang Raja melihat ke arah suara itu. Ternyata ia permaisuri pertamanya yang sudah kurus kering dan sakit-sakitan karena tidak pernah diperhatikan oleh Sang Raja, suaminya. Akhirnya Sang Raja merasa menyesal telah menelantarkan permaisuri pertama tersebut selama hidupnya. Sang Raja berkata, "Seharusnya selama ini aku memperhatikanmu melebihi permaisuriku yang lain. Seandainya masa lalu dapat kembali lagi kepadaku, tentu kamu akan menjadi permaisuriku yang paling aku perhatikan melebihi permaisuriku yang lain, karena pada saat-saat seperti ini, hanya kamu yang siap menyertaiku ke mana pun aku pergi." Demikian Raja itu berkata kepada permaisuri pertamanya yang telah kurus kering dan sakit-sakitan akibat ketidakadilannya.
    Sebenarnya kita juga memiliki empat orang permaisuri. Permaisuri keempat adalah jasad kita. Bagaimanapun perhatian yang kita berikan terhadapnya, kita penuhi segala nafsu dan syahwatnya, jasad kita akan meninggalkan kita begitu kita meninggal dunia.
    Ketiga adalah kekayaan dan harta benda. Ketika kita meninggal, kekayaan dan harta benda kita akan meninggalkan kita dan segera menjadi milik orang lain.
    Kedua, keluarga dan teman. Berapa pun besar pengorbanan mereka kepada kita selama kita hidup, kita tidak dapat berharap kepada mereka ketika kita meninggal dunia, kecuali tidak lebih dari mengantarkan kita ke alam kubur.
    Pertama, jiwa (ruh) dan hati. Kita tidak pernah memperhatikan jiwa dan hati. Selama ini kesibukan kita hanya untuk memenuhi syahwat kita sendiri, mengumpulkan harta dan memuaskan keluarga dan teman, padahal jiwa dan hati kita saja yang akan tetap menyertai kita nanti di alam kubur.
    (Diterjemahkan dari http:cb.rayaheen.net).

    more
  • Pondok Pesantren Darus Salam Surabaya Ibu kota surabaya yang kita kenal dengan keramaian dan hiruk pikuk perkotaan yang di sebut-sebut sebagai metropolitan kedua di negara kita, ternyata tidak mengharuskannya sepi dari dunia pesantren yang selama ini dianggap sebagai koloni sarungan, ketinggalan zaman, yang serasa tidak sesuai dengan kehidupan perkotaan seperti Surabaya. bukti riil dari hal tersebut adalah banyaknya pondok-pondok pesantren di berbagai sudut kota Surabaya yang sampai sekarang masih eksis mempertahankan aqidah yang direkomendasikan oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya, yaitu aqidah ahlussunnah wal jamaah. Di antara pondok-pondok tersebut adalah Pondok Pesantren Darussalam yang terletak di desa Tambak Madu 2/59 Surabaya.
    Pondok Darussalam adalah salah satu pondok yang dibangun dengan kualitas keikhlasan yang spesial oleh Ust. H. Noer Ahmad yang diperintah langsung oleh Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki. K.H. Noer Ahmad adalah saudagar kaya yang dikenal sebagai sosok yang dermawan, Muhibbin Habaib dan Ahlul Ilim, yang dengan sikapnya inilah beliau memiliki hubungan dekat dengan para Habaib dan kyai-kyai yang ada di Jawa timur sampai akhirnya beliau mendapat perintah dari Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki untuk mendirikan pesantren yang saat itu masih berupa langgar kecil (surau). Secara resmi pondok ini didirikan pada tanggal 15 Syawwal 1402 H yang bertepatan pada tanggal 5 Agustus 1982 M dengan didanai langsung oleh K.H Noer Ahmad yang di bantu oleh Sayyid Muhammad Al-Maliki di bawah pimpinan putra K.H Noer Ahmad (K.H Muhyiddin Noer).
    K.H Muhyiddin Noer di saat itu adalah sosok pemuda yang memiliki semangat yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu agama. Hal itu dapat dilihat dari sepak terjang beliau sebelum memimpin Pondok Pesantren Darussalam. Beliau pernah menjadi salah satu santri di P.P Salafiyah Syafiiyah Asem Bagus Sukerejo yang saat itu di pimpin oleh K.H.R. As’ad Syamsul Arifin yang kemudian melanjutkan pendidikannya kepada Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki di Mekkah Al-Mukarromah. Setelah berlalu kurang lebih selama 4 tahun 7 bulan K.H Muhyiddin Noer pulang ke Indonesia untuk memimpin Pondok Pesantren Darussalam atas perintah Sayyid Muhammad.
    Secara geografis P.P Darussalam terletak di kawasan yang sebagian besar masyarakatnya beragama Nasrani. Struktur-struktur Nasrani yang berada di sekitar P.P Darussalam yang sampai sekarang masih ada, mulai dari struktur ibadah sampai pendidikan menunjukkan eksistensi mereka di kawasan tersebut. kegiatan-kegiatan mereka di antaranya adalah ibadah rutinitas ummat Nasrani di gereja-gereja dan pelajar-pelajar Nasrani yang belajar di lembaga-lembaga Nasrani yang berada di sekitar pondok. Tetapi dengan berdirinya Pondok Pesantren Darussalam lambat laun dapat meminimalisir aktifitas-aktifitas tersebut.
    Dalam catatan sejarah kepemimpinan K.H Muhyiddin,beliau banyak sekali menemui berbagai macam halangan dan hambatan, di antaranya adalah sihir yang beberapa kali beliau dapatkan. Pernah satu ketika beliau sakit parah dikarenakan sihir dari salah seorang yang tidak menyukai beliau, akan tetapi dengan kelembutan hati dan sifat pemaaf yang beliau miliki, beliau tidak mau membalas perbuatan tersebut walaupun beliau mengetahui sang pelaku. Selain kelembutan hati dan sifat pemaaf yang dimiliki beliau, beliau juga di kenal sebagai sosok yang pemberani dalam membasmi kemungkaran seperti perjudian, minuman keras dan lain sebagainya, bahkan pernah satu ketikabeliau membawa sebilah pedang kepada kumpulan orang-orang yang sedang bermain judi dan memerintahkan mereka untuk berhenti seraya berkata “Siapa yang tidak terima dengan perbuatan saya ini silahkan maju, kalau tidak berani kalian kumpulkan semua teman kalian dan tentukan tempatnya di mana, Insya’ Allah saya akan datang”.Tetapi tidak ada satu orangpun yang berani menjawab tantangan beliau.
    Seiring dengan berlalunya waktu, pondok ini terus berkembang sehingga menjelma menjadi satu media pendidikan bagi ummat islam yang di lengkapi dengan pendidikan formal. Namun di saat pondok ini mengalami kemajuan yang pesat K.H Muhyiddin berpulang kerahmatulloh yang kemudian digantikan oleh menantu kesayangannya yaitu K.H Muhammad Zubair yang kebetulan alumnus PP Darussalam dan Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.Kalau K.H Muhyiddin di kenal dengan sosok yang memiliki semangat da’wah yang menggebu-gebu beda halnya dengan sosok penerusnya K.H Muhammad Zubair yang lebih cendrung dengan sifat toleransi yang di milikinya. Memang dampak dari pergantian kepemimpinan mempengaruhi kuntitas santri Darussalam, namun keadaan tersebut berangsur-angsur membaik sehingga sampai sekarang.Dari sejak berdirinya Ponpes Darussalam sampai sekarang telah banyak melahirkan icon-icon yang mampu berperan di masyarakat dengan berbagai peranan mereka masing-masing.
    Secara garis besar santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tergolong dari masyarakat kurang mampu yang berasal dari berbagai kota di pulau jawa seperti Jakarta, solo, Madura, Surabaya dan lain-lain, bahkan karena masalah inilah pihak pengurus Ponpes Darussalam tidak membebani santri atau siswa yang belajar di ponpes Darussalam dengan biaya pendidikan yang tinggi. Untuk pendaftaran cuma membutuhkan uang sebesar Rp.350.000 dengan uang bulanan sebesar Rp.50.000. Selain di kenal dengan pendidikan agamanya yang mumpuni, Ponpes Darussalam juga memiliki pendidikan formal mulai dari jenjang Ibtidaiyah (SD) sampai Madrasah Aliyah (SMA) yang tidak kalah saingnya dengan pendidikan formal lainnya.Santri-santri yang belajar di Ponpes Darussalam tidak semuanya bermukim di asrama Ponpes di karenakan kurangnya asrama yang ada, bahkan karena masalah inilah pihak pondok menolak santri yang datang dari luar jawa.
    Adapun metode belajar yang di gunakan di Ponpes Darussalam tetap mengacu pada metode ulama-ulama salaf yaitu dengan menghatamkan satu kitab kemudian pindah ke kitab yang lainnya. Adapun keinginan pimpinan Ponpes Darussalam dari santri-santri yang belajar adalah mengamalkan ilmunya dan dicintai oleh Allah dan Rosulnya.

    more

Arsip Blog

Pengikut

Featured Video

Photos